✍️Fauzan Mukrim
Terakhir saya bertemu dengan laki-laki kurus ini sekitar Mei tahun 2003. Hanya beberapa hari setelah kantornya di Cisadane 9, diserbu sipil-militeris (atau militer-sipilis?).
Kami sempat ngobrol tentang aktivitas terakhirnya dan mengapa dia dituduh anti-NKRI.
Di mataku –terlepas dari kontroversinya– dia memang pemberani, sama sekali tak tampak sirat ketakutan ketika mengomentari berbagai teror yang ditujukan padanya.

7 September 2004. Saya mendengar kabar kematiannya.
Saya sedang di Kalimantan ketika itu, dan agak sulit mendapatkan akses berita yang sahih. Tapi mendengar dia meninggal di pesawat dalam penerbangan ke Amsterdam, entah kenapa saya tiba-tiba teringat Baharuddin Lopa, tokoh HAM yang juga meninggal dalam atau setelah penerbangan. Mungkin terlalu berprasangka, tapi waktu itu saya berpikir pasti ada yang tidak wajar dalam kematian mereka.
2 bulan kemudian, 11 November 2004, muncul berita telah ditemukan 465 mgr arsen di lambungnya. Racun itulah yang diduga menyebabkan nyawanya melayang. Bisa dibayangkan bagaimana zat yang biasa dipakai membersihkan keris itu menggerus-gerus dinding lambungnya.
Tak berselang lama setelah itu, Pollycarpus (pilot Garuda yang diduga terlibat pembunuhan Munir), orang yang dianggap tahu tentang peracunan itu datang ke kantor kami untuk wawancara dengan Mas RM. Jawabannya bertele-tele dan terkesan membingungkan. Mungkin karena dia panik, mungkin juga karena dia tertekan. Saat itu hampir semua media menyorotinya.
Seminggu sebelumnya, atas perintah korlip, saya menemui Brahmanie Hastawatie, supervisor awak kabin Garuda yang bertugas saat peristiwa itu. Dia hanya bisa cerita tentang situasi penerbangan dari Jakarta-Singapura, karena menurutnya setelah itu dia turun di Changi dan digantikan supervisor lain, Madjid Nasution.
Tapi dia mengaku sempat bertukar sapa dengan Munir saat boarding, juga ketika pesawat transit agak lama di bandara Changi, Singapura.
“Jangan dihabiskan duitnya di sini, Belanda masih jauh,” kata Brahmanie, bercanda. Setelah itu mereka berpisah, Brahmanie balik ke Indonesia dan Munir meneruskan penerbangannya ke Amsterdam, menemui ajalnya.
Hari ini 21 tahun yang lalu. Alfatihah.
Belakangan ini, ada satu orang yang saya khawatirkan akan seperti Munir. Tapi semoga hanya perasaanku saja.
(Sumber: fb)







Komentar