Organisasi ini, punya total aset tidak kurang 450 triliun. Punya ribuan sekolah, kampus, Rumah Sakit, dan berbagai kegiatan lainnya. Dari aset tanahnya saja triliunan.
Nah, menariknya, di organisasi ini jika kamu naik jadi pengurusnya, pejabatnya; kamu justeru tidak digaji.
Jadi dosen, rektor di kampus-kampusnya, dapat gaji. Jadi kepala RS, dapat gaji. Jadi karyawan-karyawannnya, dapat gaji. Tapi, kamu naik jadi pengurus, pejabat-pejabat elitnya, NOOO! Tidak dikasih gaji. Aduh, jadi dia dapat gaji dari mana? Dia punya pekerjaan lain, sumber nafkah. Dia tidak hidup dari organisasi tsb, dia justeru menghidupkan organisasi itu.
Inilah logika yang betul jika kita itu betulan mau berubah. Teladan.
Termasuk di pemerintahan. Saya setuju, ASN, polisi, tentara, pegawai, karyawan, dikasih gaji. Tapi saat orang-orang ini berebut ingin menjadi anggota DPR, DPRD, Walikota, Bupati, Gubernur, Menteri, Wamen, Staf-Staf, Kades, pun Presiden sekalipun, saat itulah hapus total gaji-gajinya. Semua jabatan publik yang dipilih rakyat, pun jabatan-jabatan setingkat menteri+wamen, hapus gajinya!
Ngapain dia digaji? Dia mau berbakti pada nusa dan bangsa bukan? Maka buktikan dong. Orang-orang ini bukankah selalu membual bilang mereka punya kompetensi? Pintar? Hebat? Masa’ mereka tidak punya sumber nafkah? Tidak punya pekerjaan lain? Sekali dia ikutan Pilkada, Pilpres, Pileg, maka itu pengabdian. Tidak ada lagi gaji.
Kalaupun ybs memang betulan miskin, baiklah, cukup ganti biaya hidup. Maksimal 10x UMR. Selesai. Tidak ada lagi tunjangan-tunjangan lain. Dia bisa hidup dengan 10x UMR. Lah, rakyat banyak yang bisa hidup dengan uang 20.000 per hari.
Kita tidak perlu belajar ke China, apalagi mengejar ke Antartika untuk teladan terbaik seperti ini. Ada di dekat kalian. Ada di sekitar kalian. Saat sebuah organisasi, justeru tidak menggaji elit-elit tertingginya. Dan menariknya, apakah lantas banyak kasus korupsi di organisasi ini? Gara-gara elit-elitnya tidak digaji?
Nggak tuh. Nyaris tidak terdengar.
Dan satu lagi, di organisasi ini, budaya kritis juga kental.
(By Tere Liye)
*NB; sy bukan anggota organisasi ini; sy suka sj menulis hal2 baik, yg bisa diteladani.






Komentar