Vatikan secara tegas menyatakan tidak akan bergabung dalam Board of Peace (BoP), forum internasional yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Penolakan ini disampaikan langsung oleh diplomat tertinggi Takhta Suci, Kardinal Pietro Parolin, yang menegaskan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada posisi dan karakter khusus Vatikan dalam tata hubungan internasional.
Menurut Parolin, Vatikan memiliki mandat moral dan spiritual yang berbeda dari negara-negara lain. Oleh karena itu, keterlibatan dalam forum yang dinilai berpotensi politis seperti BoP dikhawatirkan dapat mengaburkan peran netral Takhta Suci. Ia juga menekankan bahwa penanganan krisis kemanusiaan, termasuk konflik di Gaza, seharusnya tetap berada dalam kerangka dan mandat resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sikap ini juga mencerminkan pandangan kepemimpinan Paus Leo XIV, paus pertama asal Amerika Serikat yang kini memimpin Gereja Katolik. Vatikan menilai pembentukan forum baru seperti BoP berpotensi menggeser atau bahkan melemahkan peran PBB dalam mengelola konflik global, terutama di kawasan Timur Tengah yang sensitif.
Sejak diluncurkan bulan lalu, Board of Peace memang menuai kontroversi. Sejumlah pengamat menilai struktur dan mekanismenya kurang inklusif, terutama karena tidak melibatkan perwakilan Palestina. Kritik juga muncul dari kalangan akademisi yang menyebut forum tersebut berisiko menyerupai pendekatan sepihak atau bahkan bernuansa kolonial dalam menyelesaikan konflik.
Beberapa sekutu dekat AS seperti Italia serta Uni Eropa memilih tidak bergabung secara resmi, meski tetap mengirimkan pengamat dalam KTT perdana yang digelar di Washington D.C..
Di sisi lain, sejumlah negara Arab dan Indonesia menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto dilaporkan telah tiba di ibu kota AS untuk menghadiri pertemuan tersebut. Perbedaan sikap ini menunjukkan bahwa inisiatif BoP masih menjadi perdebatan serius di panggung diplomasi global.






