Meski bukan kuliah di Fakultas Hukum, sejak awal saya sudah tertarik dengan bangunan argumentasi hukum yang dibuat Denny Indrayana yang mau memasukkan permohonan ke Mahkamah Konstitusi (MK), setelah sayembara terkait ijazah SMA atau sederajat dari Wapres Gibran, dinyatakan berakhir 9 September lalu, dinyatakan tanpa pemenang, dengan hadiah 10,25 miliar.
Kebetulan saya menyimak podcast antara Refly Harun dan Denny Indrayana di Channel YouTube Denny Indrayana, dan podcast antara Denny Indrayana dan Bambang Widjojanto di Channel YouTube Bambang Widjojanto. Ternyata, tidak hanya saya yang tertarik, tapi Refly Harun dan Bambang Widjojanto pun, juga tertarik dan kemudian menjadi kuasa hukum Denny.
Awalnya, banyak yang meremehkan, mencibir usaha yang dibuat Denny Indrayana ini. Apalagi para loyalis Jokowi, baik yang kerap tampil di media, maupun yang jadi netizen aktif di media sosial. Mulai dari sayembara yang dilakukannya sampai permohonan yang dimasukkan ke MK. Tidak hanya meremehkan dan mencibir, tapi juga memperkusi dan memfitnah Denny Indrayana melalui komentar-komentar.
Tapi, saat sayembara selesai dan permohonan benar-benar dimasukkan Denny Indrayana ke MK, dan sinyalnya MK malah menerima, baru kemudian para loyalis Jokowi—dan tentu saja Gibran—mulai panik dan ketar-ketir. Berturut-turut konferensi pers dilakukan dan akhirnya semuanya terlambat. Hanya Andi Azwan yang bisa masuk menjadi pihak terkait. Selebihnya, ditolak.
Saat ini, MK benar-benar menerima permohonan Denny Indrayana dan kawan-kawan terkait ijazah SMA atau sederajat dari Wapres Gibran. Bahkan, jadwal sidang pembuktiannya pun sudah ditetapkan Rabu besok, 30 September. Meski masih mungkin ditolak seperti yang dikatakan Jimly Asshiddiqie, tapi apa yang dibuat Denny Indrayana sudah berhasil membuat para loyalis Jokowi spot jantung. Dan apa pun bisa terjadi.
(ERIZAL)








ujung2nya cuman drama, dg bintang utama Saldi isro..judulnya dissenting opinion
klo disetujuin banyak yg lgsg sukuran