Amarah Jokowi

✍🏻Made Supriatma

Terus terang, saya belum pernah melihat Jokowi berpidato seperti yang diucapkan di depan Rakernas PSI di Makassar. Biasanya, pidatonya tenang. Terjaga. Bahkan ketika ia marah, suaranya tidak meninggi dan meledak-ledak. Sorot matanya pun biasanya tanpa ekspresi yang jelas. Ia datar.

Banyak orang menghubungkan style ini dengan latar belakang Jokowi sebagai orang Jawa. Bukan hanya sekedar Jawa tapi juga orang Jawa di pusat kebudayaan Mataram Islam, yakni Solo. Indonesia punya dua presiden yang berasal dari area ini, yakni Suharto dan Jokowi.

Suharto terkenal dengan sebutan ‘the smiling general.’ Apapun yang dihadapi, dia tersenyum. Orang susah menebak suasana hatinya. Juga susah menebak apa yang dimauinya dan kemana ia akan melangkah. Kabarnya, ia tetap tersenyum bahkan ketika memerintahkan pembantaian.

Jokowi tidak terkenal karena senyumnya. Ia datar saja. Kadang tersenyum kecil. Postur tubuhnya yang kerempeng dengan jari bengkoknya yang khas membuat ia selalu diolok-olok dengan julukan ‘plonga-plongo.’ Namun, ia orang yang mampu menahan dan menyerap pukulan, makian, dan ejekan.

Dia menanggapi semua itu dengan gaya Jawa yang khas, “Aku rapopo.” Ia sebenarnya rasa sakit hati yang amat sangat namun dibalikkan lewat semiotika Jawa yang elegan, “Aku rapopo.” Ini semacam “memang tanpo ngasorake.” Memukul dengan menyemburkan energi positif. Dan, hasilnya? Bum! Orang menjadi sangat bersimpati padanya.

Nah, inilah yang dalam pengamatan saya tidak terlihat pada pidatonya di Makassar. Di kesempatan ini, sangat jelas terlihat kilatan marah pada matanya. Sangat jelas terlihat dendam kesumat yang membuncah dan menuntut untuk disalurkan.

Tidak ada lagi Jokowi yang cengengesan he-he-he-he. Tidak ada lagi kemurahan hati yang memberi makan dan oleh-oleh kepada siapa saja yang mengunjunginya di rumahnya.

Dan, dia mengatakan bahwa ia akan kerja keras dan mati-matian untuk PSI. “Saya masih sanggup,” katanya. Dia berjanji akan keliling ke semua provinsi, ke kabupaten-kabupaten, dan bahkan ke kecamatan-kecamatan.

Cuma ada satu masalah: Siapakah Jokowi untuk PSI? Dia tidak ada dalam struktur. Dia bukan pengurus, Dia juga bukan organ partai. Dia tidak duduk di Dewan Pembina atau Dewan Penasehat. Juga tidak di Dewan Pengawas. Dia hanyalah bapak dari Kaesang, yang menjadi ketua PSI hanya dua hari setelah menjadi anggota. Ya, di PSI, Jokowi cuman bapaknya Kaesang!

Seberapa besarkah pengaruh Jokowi? Apakah dia bisa akan mengangkat PSI menjadi parti besar, partai yang berushaan menubuhkan (embodied) dirinya dengan melabelkan ideologinya sebagai Jokowisme? Sementara, jika orang bertanya, apa itu Jokowisme, jawabnya masih … hmmm nganu!

Mungkin Jokowi masih punya residual power (sisa-sisa kekuatannya). Masih ada sisa-sisa orang yang mengikutinya. Namun, jaman sudah berubah. Manusia-manusia politik Indonesia itu seperti ayam. Mereka akan berkerumun dimana Anda menaburkan gabah!

Kalau kita perhatikan, berapa banyak para pekerja politik — partai, polisi, militer — yang jadi gemuk karena program-program pemerintahan Prabowo. MBG, misalnya, program yang luar biasa besarnya, dengan manfaat yang belum jelas dan malah meracuni anak-anak Indonesia, adalah program redistribusi kekayaan — di kalangan sesama orang kaya berkuasa. Untuk rakyat? Emang lo kira siapa diri lo?

Begitu juga Koperasi Merah Putih. Bagaimana kebijakan pemerintah berubah-ubah. Setelah gerakan koperasi dari bawah gagal, pemerintah memutuskan membuat gerai dan perlengkapan koperasi senilai 2,5 milyar. Pelaksananya? PT Agrinas Pangan dan Kodim setempat. Kepala desa harus menyediakan lahan yang memenhuhi syarat untuk bangunan koperasi. Dan, banyak lahan yang memenuhi syarat adalah … lapangan sepak bola! Jadilah ketegangan antara rakyat dan aparat karena lapangan bermainnya jadi bangunan koperasi.

Begitu banyak program kesejahteraan untuk yang kaya dan berkuasa dilaksanakan oleh pemerintahan ini. Dan, Jokowi? Ia ada didalamnya, namun tetap berdiri di luar. Dia memang tidak disingkirkan. Tapi juga tidak bisa masuk. Prabowo dan orang-orang di sekitarnya cukup pintar. Mereka tahu, Jokowi malah akan kuat ketika digebuki. Jadi lebih baik dirangkul saja.

Komentar