Adegan ini menjawab kegaduhan panjang

Adegan ini seperti menjawab kegaduhan panjang yang dibangun di atas perbedaan. Bahwa sebelum kita menyebut diri Sunni atau Syi’ah, kita lebih dulu adalah Ahlul Qiblah—umat yang bersujud kepada Tuhan yang satu, menghadap kiblat yang sama.

‎Di ruang itu, TGB berdiri sebagai imam—mewakili tradisi Sunni yang berakar pada keluasan ilmu, seperti warisan Al-Azhar. Sementara tempat itu sendiri (kediaman Dubes Iran) adalah representasi dari Iran, dengan identitas Syi’ahnya. Namun semua itu luruh dalam satu saf, tanpa sekat, tanpa jarak—hanya satu arah yang tersisa: kiblat.

‎Di baliknya, ada makna yang lebih sunyi. Iran bukan sekadar simbol mazhab, tetapi bangsa yang lama berdiri di bawah tekanan, menanggung luka, dan menjaga kehormatan Ummat ini dengan harga yang tidak murah. Maka salat di ruang itu bukan sekadar ibadah—ia menjadi tanda, sebuah pengakuan bahwa perjuangan mereka bukan sesuatu yang asing bagi kita sebagai umat.

‎Gambar ini tidak berisik, tapi justru karena itu ia begitu kuat. Ia mengingatkan bahwa persatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesadaran arah yang sama.

‎Dan mungkin di situlah pesannya— bahwa di tengah dunia yang mudah memecah, kita masih memiliki sesuatu yang tidak bisa dipisahkan: kiblat yang sama, sujud yang sama, dan satu identitas yang tidak boleh hilang.

‎Bahwa kita adalah umat.

(Mabda Dzikara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

    1. Di negeri ini yg mayoritas NU juga banyak kok yg shof nya renggang seperti itu. Bahkan pernah teman ketika ada jamaah disebelahnya merapatkan shof dia malah merenggang krn diulang lagi akhirnya dia marah dan memijak kaki jamaah yg disebelahnya dgn keras, 🤣🤣🤣