“Waktu Serangan AS-Israel ke Iran Memiliki Makna Simbolis dalam Yudaisme Saat Netanyahu Merujuk pada Hari Raya Purim”

Website CNN Amerika kemarin (28/2/2026) memposting tulisan berjudul “Waktu Serangan AS-Israel ke Iran Memiliki Makna Simbolis dalam Yudaisme Saat Netanyahu Merujuk pada Hari Raya Purim.”

Hari Raya Purim adalah festival Yahudi yang meriah untuk memperingati keselamatan bangsa Yahudi dari rencana pemusnahan oleh Haman di Kekaisaran Persia kuno, sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Ester. Dirayakan pada 14 Adar (Hari raya Purim 2026 jatuh pada tanggal 2 hingga 3 Maret 2026), ditandai dengan sukacita, mengenakan kostum, membaca Gulungan Ester, dan saling mengirim makanan.

Terjemahan tulisan CNN itu:

Waktu serangan AS dan Israel ke Iran memiliki makna simbolis dalam Yudaisme, karena Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merujuk pada hari raya Purim yang akan datang dalam pernyataan pertamanya.

“Dua ribu lima ratus tahun yang lalu, di Persia kuno, seorang tiran bangkit melawan kita dengan tujuan yang sama, untuk menghancurkan rakyat kita sepenuhnya,” kata Netanyahu tentang kisah tersebut, yang terjadi di wilayah yang sekarang menjadi Iran. “Hari ini juga, pada Purim, takdir telah ditentukan, dan pada akhirnya rezim jahat ini pun akan jatuh.”

Netanyahu sering merujuk pada peristiwa atau simbol keagamaan dalam pernyataannya.

Menjelang hari raya Yahudi yang akan datang, para jemaah membaca bagian tertentu dari Perjanjian Lama, yang dikenal sebagai Zakharia.

Ayat dari Kitab Ulangan memerintahkan bangsa Israel kuno untuk mengingat serangan tanpa provokasi oleh bangsa Amalek, yang terletak di Sinai modern dan Israel selatan, dan untuk menghapus ingatan tentang Amalek setelah bangsa Israel menetap di tanah mereka.

Ayat tersebut dibacakan di depan umum sebelum Purim untuk memenuhi apa yang dianggap oleh orang Yahudi sebagai mitzvah – atau perintah – untuk mengingat Amalek sebagai musuh utama Israel. Amalek sering disebut sebagai musuh historis bangsa Yahudi, dan Netanyahu menyebutkannya tak lama setelah serangan 7 Oktober 2023 terhadap Israel.

***

Komentar:
Intinya, Rezim Zionis Israel sedang membawa-bawa agama [versi Zionis] untuk menjustifikasi serangannya ke Iran, juga ke Palestina. Pernyataan soal Amalek, minimalnya 2x disampaikan Netanyahu terkait genosida di Gaza, dengan konteks “Orang Palestina adalah Amalek; Tuhan memerintahkan kita membunuh semuanya, termasuk perempuan dan anak-anak.”

Kini, melalui “juru bicara” Zionis di media, publik didorong untuk mengingat lagi Amalek, dan menerima serangan Israel ke Iran sebagai “pembalasan” atas sejarah di masa lalu. Orang Iran diposisikan sebagai “Amalek” yang harus dibalas.

Pertama, klaim historis dari Kitab Suci tidak bisa dijadikan landasan hukum di era modern. Buat apa ada Piagam PBB kalau Zionis dibiarkan membantai manusia semaunya hanya atas dasar ayat Kitab Suci yang ditafsirkan semau mereka?

Kedua, sekedar info, pernyataan Netanyahu soal Amalek ini, sudah diajukan oleh Afsel ke ICJ (Mahkamah Internasional) untuk membuktikan “mens rea” rezim Zionis.

Ketiga, para Zionis-sawo matang yang selama ini teriak-teriak “toleransi” dan “antiterorisme”, yang dulu sering mengecam ISIS karena membawa-bawa ayat untuk membantai “kaum kafir,” apa kalian tidak malu? Ini junjungan kalian juga bawa-bawa ayat untuk menjustifikasi genosida di Gaza dan perang terhadap Iran. Kalau benar kalian antiteroris tolong konsisten: semua teroris seharusnya dilawan!

(Dina Sulaiman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar