Wakil Menlu Iran: Tidak Ada Pertukaran Pesan dengan AS Sejak Perang Dimulai

Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Politik, Majid Takht-Ravanchi, menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada komunikasi apa pun antara Iran dan Amerika Serikat sejak konflik militer pecah. Ia menegaskan Teheran sedang fokus sepenuhnya pada upaya mempertahankan diri dari serangan.

Dalam wawancara dengan media MS Now pada Kamis, Takht-Ravanchi mengatakan Iran tidak mengirimkan pesan kepada Amerika Serikat dan juga tidak menerima pesan apa pun dari Washington.

“Tidak, kami tidak mendengar apa pun dan kami juga tidak menyampaikan pesan kepada Amerika. Saat ini kami sedang mempertahankan diri. Kami berada dalam posisi defensif,” ujarnya.

Menurutnya, prioritas utama pemerintah Iran saat ini adalah melindungi rakyat dan wilayahnya di tengah konflik yang terus meningkat. Ia menegaskan Iran memiliki hak penuh untuk melakukan pembelaan diri sesuai hukum internasional.

“Apa yang kami fokuskan adalah melindungi diri dan mempertahankan negara kami. Karena itu tidak ada pesan yang dikirim, dan kami juga tidak menerima pesan apa pun dari Amerika atau pihak lain,” lanjutnya.

Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Menurut laporan otoritas Iran, serangan udara yang terjadi sejak awal konflik telah menewaskan sedikitnya 1.045 warga Iran. Serangan tersebut juga disebut menargetkan berbagai fasilitas sipil.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone ke wilayah yang dikuasai Israel serta aset-aset milik Amerika Serikat di beberapa negara kawasan.

Takht-Ravanchi juga menyebut Washington dan Tel Aviv sebelumnya memperkirakan konflik ini dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Namun menurutnya, perkiraan tersebut terbukti keliru.

Ia menambahkan bahwa Iran akan terus melakukan pembelaan diri terhadap apa yang disebutnya sebagai agresi tidak manusiawi, yang menurutnya bahkan menargetkan warga sipil, termasuk anak-anak sekolah, pekerja bantuan, dan rumah sakit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *