HUTANG VENEZUELA
✍🏻Nazri Hamdan
Saya yakin banyak orang tidak tahu bahwa Venezuela pernah menjadi negara kaya. Bahkan, mereka adalah negara terkaya di Amerika Latin.
Pada tahun 1950-an–1970-an, pendapatan minyak menjadikan Caracas sebagai kota mewah, mata uang bolívar kuat, dan negara tersebut hidup nyaman berkat ekspor minyak ke Amerika Serikat dan Eropa.
Namun! Kekayaan ini bagaikan pedang bermata dua. Ekonomi Venezuela terlalu bergantung pada minyak, sementara sektor lain menjadi lemah.
Ketika harga minyak turun, pendapatan negara pun runtuh. Ditambah lagi dengan budaya subsidi besar-besaran, pengeluaran pemerintah yang tidak terkendali, dan utang yang diambil ketika harga minyak tinggi, semua itu menjadi bom waktu.
Pada era Presiden Chavez dan kemudian Maduro, masalah struktural menjadi semakin buruk. Nasionalisasi industri, campur tangan politik di perusahaan minyak PDVSA, serta korupsi dan salah urus memengaruhi produksi minyak, yang dulunya merupakan sumber kehidupan negara.
Ketika Amerika Serikat memberlakukan sanksi keuangan dan perdagangan, akses Venezuela ke dolar dan pasar internasional terputus. Pemerintah mencetak uang untuk menutupi defisit, memicu hiperinflasi, penurunan nilai mata uang, dan perekonomian yang lumpuh.
Dari negara kaya minyak, Venezuela telah menjadi negara yang terlilit utang, dengan warga negara berjuang untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok, dan kreditor asing mengincar aset nasional, sebuah pelajaran mahal tentang bagaimana kekayaan tanpa tata kelola dapat menghancurkan dirinya sendiri.
Venezuela kini diperkirakan memiliki utang luar negeri antara USD150 miliar dan USD170 miliar, angka yang sangat besar untuk ekonomi dengan PDB nominal hanya sekitar USD80 miliar.
Rasio utang yang hampir dua kali lipat PDB-nya menjadikan Venezuela salah satu negara dengan gagal bayar utang terburuk di dunia. Utang ini bukan hanya obligasi pemerintah, tetapi juga termasuk utang yang dimiliki oleh perusahaan minyak negara PDVSA, tunggakan bunga, klaim hukum lama, dan kompensasi atas penyitaan aset.
Yang membuat situasi semakin rumit adalah siapa yang memegang utang tersebut. Di satu sisi terdapat investor obligasi internasional dan “dana pemangsa” yang membeli utang murah selama krisis.
Di sisi lain terdapat perusahaan minyak besar seperti ConocoPhillips dan Crystallex yang memenangkan kasus arbitrase internasional karena penyitaan aset selama era Chavez-Maduro.
Aset terpanas saat ini adalah CITGO, kilang minyak Venezuela yang berbasis di AS, yang sedang dituntut oleh para kreditur melalui pengadilan Amerika. Nilai klaim jauh lebih besar daripada nilai aset itu sendiri. Ini berarti bahwa tidak semua orang akan dibayar penuh.
Masalahnya adalah sanksi AS sejak 2017 telah membuat restrukturisasi utang hampir mustahil. Venezuela tidak dapat menerbitkan obligasi baru atau menegosiasikan kembali utangnya tanpa izin khusus dari Departemen Keuangan AS.
IMF tidak dapat masuk karena Caracas telah terputus dari hubungan kelembagaannya selama bertahun-tahun. Jadi, meskipun ada ide untuk restrukturisasi dengan pemotongan pokok hutang sebesar 50%, pembayaran selama 20 tahun, atau mengaitkan pembayaran dengan harga minyak, semua ini tetap bersifat teoritis selama politik dan sanksi tetap tidak berubah.
Menariknya, pasar utang telah mulai ‘berpesta’ lebih awal. Obligasi Venezuela, yang dulunya hanya bernilai beberapa sen, sekarang diperdagangkan sekitar 27–32 sen per dolar, dengan para spekulan bertaruh bahwa perubahan politik dan dominasi AS akan membuka jalan bagi pembayaran kembali.
Namun kenyataan pahitnya adalah ekonomi Venezuela masih lemah, pendapatan minyak terbatas, dan aset negara diperebutkan di pengadilan. Singkatnya, ini bukan kisah tentang menyelamatkan Venezuela, ini adalah perlombaan untuk melihat siapa yang dapat mencapai kas negara yang sekarat paling cepat.
*Penulis adalah analis internasional dari Malaysia







Komentar