Tuhan tidak pernah diam

✍🏻KH Abdul Wahab Ahmad

“Kenapa Tuhan diem aja?”. Pertanyaan pendek ini menarik. Tuhan nggak pernah diam, Tuhan selalu berkalam setiap saat, setiap milidetik, sejak sebelum waktu tercipta sampai kapan pun. Cuma kita yang nggak dengar Kalamnya, dan memang dikehendaki begitu sebagai ujian keimanan.

Ada kalamnya yang ditampakkan pada para Nabinya, dan itu bisa kita baca dalam al-Qur’an. Bukti bahwa al-Qur’an adalah kalamnya yang asli terlalu banyak untuk dibahas di sini. Ini bukan sekedar doktrin atau argumen melingkar, tapi sesuatu yang nyata dan bisa dikaji.

Tuhan juga menyapa kita dengan tanda-tanda keberadaannya di alam semesta (Ayat-ayat kauniyah) yang lebih jelas dari mentari di siang bolong. Dia adalah Al-Dhahir (الظاهر), yang paling tampak kepada akal kita sekaligus al-Bathin (الباطن), yang tersembunyi dari indera duniawi.

Sebagian manusia membayangkan Allah sebagaimana makhluk sehingga ia wujud Allah disangka berupa fisik, kalamnya disangka berupa rentetan gelombang getar yang menjadi suara dan huruf. Akhirnya setelah tidak ditemukan sosok seperti itu, maka Allah disangka tidak ada. Ketika Allah disapa dengan doa, ekspektasinya adalah Allah menjawab dengan suara dari langit dan keajaiban harus terjadi seketika. Ketika tidak terjadi peristiwa seperti itu, lalu Allah disangka tidak ada. Padahal yang sejak awal bermasalah adalah sangkaan dan pemahamannya tentang satu-satunya Tuhan yang benar.

Allah menciptakan berbagai makhluk. Ada jenis makhluk yang semua diciptakan beriman dan diberi kemampuan melihat kerajaan ghaibnya, mereka adalah malaikat. Ada makhluk yang diciptakan semuanya ingkar dan terhalangi dari kebenaran, mereka adalah setan. Ada juga makhluk yang diciptakan bisa memilih antara iman dan ingkar, mereka adalah manusia.

Kepada yang terakhir ini, Allah tidak menampakkan diri, tidak memperlihatkan kerajaan ghaibnya, tidak menyapa secara langsung dan memang tidak membuat semuanya agar beriman. Mereka memang diberi jalan untuk ingkar. Tetapi di saat yang sama, Allah memperlihatkan semua hal di jagat raya sebagai tanda keberadaan dan kekuasaannya, menunjukkan bahwa kontingensi alam memastikan bahwa alam adalah ciptaan, memperlihatkan mukjizat yang nyata terhadap Rasulnya yang membuktikan bahwa Dia benar-benar menyapa manusia, memperlihatkan pertolongannya yang kadang menentang hukum alam pada orang-orang terpilih, dan memberikan jalan lebar untuk menemukan keimanan kepadanya. Akhirnya, siapa yang beriman akan diberi balasan, yang ingkar juga demikian.

Note:
Anda hanya dapat memahami tulisan ini secara utuh bila anda memahami ajaran agama ala Islam, dan Islamnya ala Ahlussunnah wal Jamaah (Asy’ariyah-Maturidiyyah) yang dianut mayoritas ulama dari masa ke masa.

Komentar