Trump, Mengulangi Naskah yang Sama dalam Al-Quran

Mengulangi Naskah yang Sama dalam Al-Quran

Perhatikan pernyataan Trump:

“Amerika Serikat sekali lagi membuktikan bahwa kita memiliki kekuatan militer terkuat, paling mematikan, paling canggih, dan paling ditakuti di dunia. Tidak ada yang bisa menandingi kita. Saya sudah mengatakan ini sejak lama, tidak ada yang bisa melawan kita.”

Perhatikan juga sikap dan ekspresi kaum ‘Āad:

فَأَمَّا عَادٌ فَٱسْتَكْبَرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَقَالُوا۟ مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً

Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” (Surah Fussilat: 15)

Ungkapan ini bukan sekadar kebetulan bahasa, tetapi pola kesombongan yang telah berulang dalam sejarah.

Ketika seseorang atau suatu kekuatan berada di tempat yang tinggi, masih segar dari kesuksesan baru, mudah untuk melupakan kegagalan lama dan menutup mata terhadap kenyataan yang sebenarnya.

Selama hampir dua tahun, Amerika Serikat mengerahkan segala upaya untuk membantu Netanyahu, tetapi tidak satu pun sandera yang mudah dibawa pulang. Bahkan, seorang pemimpin kunci juga gagal ditangkap sebagai sandera.

Militer Amerika sendiri telah beroperasi di Bait Hanun dan Khan Younis Gaza, tetapi mereka tetap gagal mencapai tujuan mereka. Kekuatan teknologi dan persenjataan tidak menjamin kemenangan ketika menghadapi perjuangan yang berakar pada Iman dan kesabaran.

Gugurnya para pemimpin Hamas Yahya Sinwar, Ismail Haniyeh, Muhammad Deif dan Abu Ubaidah bukan karena mereka pengecut, tetapi karena mereka berada di medan perang, tidak seperti Netanyahu yang melarikan diri ke bunker bawah tanah setiap kali sirene berbunyi.

Dan yang lebih menggentarkan lagi, setelah kesyahidan sebagian besar pemimpin utama Hamas, gerakan ini masih berdiri, masih mampu mengelola Gaza dari sisi keamanan, masyarakat, dan ketahanan publik. Ini membuktikan bahwa perjuangan yang didasarkan pada ide dan iman tidak mati dengan kematian individu.

Trump dan sekutunya juga tampaknya telah melupakan kebenaran besar sejarah: Tidak ada kekuasaan yang bertahan selamanya.

Inggris Raya, yang pernah menjajah hampir seluruh dunia, kini menyaksikan perubahan demografis dan dominasi sektor-sektor penting negara oleh mereka yang pernah dijajah. Kekuatan besar itu melemah bukan karena kekurangan senjata, tetapi karena kesombongan, ketidakadilan, dan perpecahan internal.

Sejarah yang sama hal serupa terjadi pada pemerintahan Firaun. Di puncak kekuasaannya, dengan pasukan dan kekayaan yang luar biasa, Firaun dengan sombong berkata: “Bukankah kerajaan Mesir ini milikku?” Namun, laut yang diseberanginya dengan penuh kebanggaan akhirnya menjadi kuburan yang menelan semua kesombongannya.

Kaum ‘Aad juga memiliki kekuatan fisik dan postur tubuh yang luar biasa, sedemikian rupa sehingga mereka berpikir tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Namun, angin yang tampaknya lemah itulah yang menghancurkan seluruh peradaban mereka, sedemikian rupa sehingga Al-Quran menggambarkan mereka seolah-olah mereka tidak pernah ada.

Kaum Tsamud, dengan teknologi pahat gunung dan perencanaan kota yang hebat, dihancurkan hanya dengan satu teriakan karena kesombongan dan ketidaktaatan mereka.

Begitu pula Kekaisaran Romawi, baik Romawi Timur maupun Barat, yang pernah menjadi simbol militer dan peradaban dunia. Namun kezaliman , perebutan kekuasaan, dan kemerosotan moral melemahkan mereka dari dalam sebelum mereka runtuh dari luar.

Semua kekaisaran besar memiliki penyakit yang sama: apabila kekuatan dijadikan sandaran mutlak, keadilan ditinggalkan dan Tuhan dilupakan, maka kehancuran hanya menunggu waktu.

Al-Quran tidak menceritakan kisah-kisah ini sebagai nostalgia sejarah, tetapi sebagai peringatan berulang kepada orang-orang yang menganggap diri mereka luar biasa.

Kekuatan tanpa kebenaran melahirkan kezaliman.
Kejayaan tanpa kesyukuran melahirkan keangkuhan.
Kekuasaan tanpa keadilan melahirkan kehancuran.

Dan sejarah selalu membuktikan satu kebenaran yang tak berubah:

Yang bertahan bukanlah kekuasaan, tetapi kebenaran;
Yang menang bukanlah yang terkuat, tetapi yang paling sabar dan teguh.

(Ustaz Megat Aiman ​​​​Hakim bin Megat Shariffudin)

Komentar