Israel telah menjadi beban, tidak hanya bagi “musuh dan kritikus tradisionalnya, tetapi juga bagi teman-teman dekatnya”, termasuk Trump dan AS, kata Ori Goldberg, seorang analis politik Israel kepada Al Jazeera.
“Tidak akan ada yang berani mengatakan ini, tetapi keputusan Trump yang tiba-tiba untuk mengartikan balasan Hamas sebagai kesediaan untuk berdamai, saya pikir, menunjukkan bahwa ketika ia memandang Netanyahu, ketika ia memandang Israel, ia melihat sebuah beban. Ia melihat, dalam bahasa Trump yang umum, seorang pecundang,” ujar Goldberg kepada Al Jazeera, berbicara dari Tel Aviv, Sabtu (4/10/2025).
Israel tidak menduga hal ini, karena telah terbiasa dengan “siklus genosida dan pembersihan etnis yang tak berujung” sehingga tidak dapat mengakui adanya unsur-unsur lain di luar serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, tambahnya.
“Lihatlah perbedaan antara armada pertama yang mencoba berlayar ke Gaza dan armada Sumud, serta respons terhadap tindakan Israel terhadap armada [kedua] ini di seluruh dunia. Tidak ada yang sama seperti sebelumnya, dan Israel pagi ini sama sendiriannya seperti sebelumnya, saya rasa, selama dua tahun terakhir,” kata Goldberg.
Trump Respons Positif Hamas dan Mendesak Israel Menghentikan Pengeboman Gaza

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menanggapi positif respons Hamas yang menyetujui sebagian besar dari 20 poin proposal perdamaian Gaza versi Washington. Ia pun memerintahkan agar pengeboman di wilayah kantong Palestina itu dihentikan.
Kendati sejumlah isu krusial seperti perlucutan senjata dan penarikan bertahap Israel masih menggantung, Trump menilai sikap Hamas telah membuka jalan lebar untuk perdamaian di Gaza.
Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa Hamas telah menunjukkan kesiapan menuju “perdamaian abadi” dan menuntut Israel segera menghentikan pengeboman.
“Israel harus segera menghentikan pemboman Gaza agar kita bisa mengevakuasi sandera dengan aman dan cepat! Saat ini terlalu berbahaya untuk melakukannya. Kami sudah mulai membahas detail yang harus diselesaikan. Ini bukan hanya soal Gaza, ini soal perdamaian yang telah lama dicari di Timur Tengah,” tulis Trump.
Dalam tanggapannya, Hamas menyatakan menyambut baik upaya internasional dan menegaskan siap membebaskan seluruh tawanan Israel, baik yang masih hidup maupun jenazah, sesuai formula pertukaran yang diajukan Trump.

Kelompok itu juga menyatakan kesediaannya menyerahkan administrasi Gaza kepada badan independen teknokrat yang didukung konsensus nasional Palestina dengan dukungan negara-negara Arab dan Islam.
Namun, Hamas tidak menyinggung soal perlucutan senjata maupun demiliterisasi Gaza, syarat utama yang selama ini didorong AS dan Israel. Seorang pejabat senior Hamas kepada Al Jazeera menegaskan kelompok itu tidak akan melucuti senjata sebelum pendudukan Israel berakhir sepenuhnya.
Hamas juga menolak gagasan penarikan bertahap Israel, menuntut penarikan penuh dan segera.
“Hamas menegaskan kesiapannya untuk segera masuk ke dalam negosiasi melalui mediator guna membahas detailnya,” kata kelompok itu dalam pernyataan resminya.






