Trump Frustrasi, Opsi Militer Buntu. Laporan terbaru dari CBS News menegaskan satu hal, ternyata tekanan militer terhadap Iran tidak semudah omon–omon kampanye.
Rezim Donald Trump dikabarkan frustrasi karena opsi serangan terhadap Iran tidak menjanjikan kemenangan.
Berbeda dengan operasi terbatas di Venezuela, serangan ke Teheran bukan soal “pukul lalu selesai”. Risiko eskalasinya nyata, konflik bisa melebar, perang akan berkepanjangan, kawasan Timur Tengah terbakar hebat, dan fasilitas militer Amerika di kawasan bisa jadi tinggal kenangan.
Ketua Joint Chiefs, Jenderal Dan Caine, sudah memberi peringatan tegas, Iran bukanlah jongos seperti yang lain, Iran mampu menyerang balik. Basis militer AS sudah pasti jadi samsak. Sekutu bisa terseret. Perang tidak akan steril, tidak akan murah, dan tidak akan lagi singkat.
Trump disebut tetap merengek ingin tekanan keras, bukan untuk sekadar menyerang, tetapi untuk “menang”. Namun kalkulasi militer berbicara lain, tidak ada jaminan bahwa serangan akan memaksa Iran tunduk.
Justru peperangan bisa menjadi pintu masuk konflik berkepanjangan yang sulit untuk dikendalikan.
Ini bukan soal berani atau tidak. Ini soal realitas strategis. Retorika bisa keras. Tapi medan perang tidak tunduk pada ambisi politik.







Maju terus Iran
( Satu2 nya negara timteng yg msh berwibawa)
Perang tanpa kenal musuh dg baik hanya membawa kekalahan. Trump dan Amerika tdk mengenal dg baik Iran. Padahal Perang 12 Hari kemarin Iran sdh mempertontonkan kemampuannya membuat Israel remuk redam. Untung Zionist ditolobg Trump dg gencatan senjata dan tukeran tawanan. Padahal kita tahu AB Israel nomor 4 terkuat di dunia.