Terkecoh oleh Bisnis yang Seolah-olah Agamis

Awalnya saya menolak, karena pada dasarnya saya tidak suka MLM.

Setelah saya ikut seminarnya, dan menyimak penjelasan tentang peluang bisnisnya pun, saya belum tertarik untuk gabung. Karena isi presentasinya sama saja dengan presentasi dari bisnis MLM lain.

Yang membuat saya akhirnya gabung adalah saat menyimak presentasi seorang ustadz. Dia bicara dengan nada yang sangat menghipnotis.

Dia berkata, “Masya Allah… Di bisnis ini banyak orang sholeh. Para leadernya senang bersedekah, membangun masjid, membangun pesantren. Di bisnis ini juga ada pengajian sebulan sekali, menginap 3 hari di masjid. Kita di sana fokus ibadah, sejanak melupakan dunia… bla…bla…bla…”

Itulah kalimat yang akhirnya membuat saya yakin untuk gabung.

(Lagipula saat itu saya baru saja bebas dari kriminalisasi. Hidup terpuruk, jadi pengangguran, terkucil dari pergaulan, dan hampir semua orang menjauhi saya. Dan satu-satunya tawaran bisnis yang datang ketika itu hanya dari PTB).

Ya, apa yang dikatakan oleh ustadz tersebut memang benar. Bisnis tersebut memang terlihat sangat agamis, para mitranya terlihat religius, ada bacaan shalawat sebelum seminar dimulai, dan seterusnya.

Secara pribadi, saya juga merasakan bahwa banyak kemajuan positif dalam hal beragama pada diri saya, selama 5 tahun di bisnis tersebut.

Ini tentu sangat patut saya syukuri.

Namun setelah saya rungkad dari bisnis tersebut, lalu memutuskan untuk keluar dari sana, saya mulai menemukan sejumlah SISI GELAP yang dulu tidak saya sadari.

Ya, saya dulu tidak menyadarinya, karena masih terpengaruh oleh DOKTRIN CINTA BUTA.

Dan sisi gelap tersebut bukan sekadar gelap biasa. Itu adalah sisi gelap yang SANGAT FATAL, membuat saya sering tergoda untuk berkata, “Ya Allah… Kenapa dulu saya demikian bodohnya mau gabung di bisnis itu?”

Tapi karena Islam melarang kita untuk menyesali takdir masa lalu, maka saya mencoba mengambil hikmahnya saja. Saya mencoba untuk ikhlas terhadap takdir yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diri ini.

Maka inilah beberapa hikmah yang saya dapatkan selama 5 tahun di bisnis tersebut:

  1. Kita tidak boleh terlalu mudah terkecoh oleh bisnis yang terlihat agamis.
  2. Bisnis yang mengaku bisnis syariah, ternyata belum tentu syariah beneran.
  3. Karena pernah gabung di bisnis tersebut, saya alhamdulillah bisa mengedukasi masyarakat dengan cara memberikan informasi yang jauh lebih valid ketimbang kamu yang hanya jadi pengamat, hehehehe….

Alhamdulillah…

(JONRU GINTING)

Komentar