Terhapusnya Al-Qur’an

Terhapusnya Al-Qur’an ini terjadi pada malam hari, sebelum kehancuran Ka’bah menjelang hari kiamat.

Nabi bersabda,

“Al-Qur’an akan diangkat pada malam hari sehingga pada keesokan harinya tidak ada satu ayat pun yang tidak terhapus”

Kelak di masa-masa akhir Islam, Al-Qur’an itu sudah ditinggalkan (punah) sehingga Allah mencabutnya dari dunia, orang pada masa itu tidak tahu lagi apa itu puasa, salat, atau haji. Mereka cuma tahu “Laa ilaha ilallah” saja dari orang tuanya tanpa mengamalkan lagi ajaran Islam.

HADITS HUDZAIFAH radhiyallaahu ‘anhu

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَدْرُسُ الْإِسْلَامُ كَمَا يَدْرُسُ وَشْيُ الثَّوْبِ، حَتَّى لَا يُدْرَى مَا صِيَامٌ، وَلَا صَلَاةٌ، وَلَا نُسُكٌ، وَلَا صَدَقَةٌ، وَلَيُسْرَى عَلَى كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي لَيْلَةٍ، فَلَا يَبْقَى فِي الْأَرْضِ مِنْهُ آيَةٌ، وَتَبْقَى طَوَائِفُ مِنَ النَّاسِ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْعَجُوزُ، يَقُولُونَ: أَدْرَكْنَا آبَاءَنَا عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَةِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَنَحْنُ نَقُولُهَا» فَقَالَ لَهُ صِلَةُ: مَا تُغْنِي عَنْهُمْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَهُمْ لَا يَدْرُونَ مَا صَلَاةٌ، وَلَا صِيَامٌ، وَلَا نُسُكٌ، وَلَا صَدَقَةٌ! فَأَعْرَضَ عَنْهُ حُذَيْفَةُ، ثُمَّ رَدَّهَا عَلَيْهِ ثَلَاثًا، كُلَّ ذَلِكَ يُعْرِضُ عَنْهُ حُذَيْفَةُ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ فِي الثَّالِثَةِ، فَقَالَ: “يَا صِلَةُ، تُنْجِيهِمْ مِنَ النَّارِ” ثَلَاثًا

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda: “(Ajaran) Islam akan hilang sebagaimana hiasan baju yang luntur. Sehingga tidak di ketahui apa itu puasa, apa itu shalat, apa itu haji dan apa itu sedekah. Dan Kitabullah (Al-Qur’an) akan dihilangkan di suatu malam hari, sehingga tidak tersisa di muka bumi satu ayat pun. Tinggal beberapa kelompok manusia, kakek tua dan nenek tua, mereka berkata, ‘Kami mendapati bapak-bapak kami di atas kalimat ‘Laa Ilaaha illa Alloh’ (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah)’, maka kami mengucapkannya.”

Shilah berkata kepadanya (Hudzaifah), “Kalimat ‘Laa Ilaaha illa Alloh’ tidak akan bermanfaat bagi mereka, karena mereka tidak tahu apa itu shalat, apa itu puasa, apa itu ibadah haji dan apa itu sedekah.”

Maka Hudzaifah berpaling darinya, namun Shilah mengulanginya perkataannya kepada Hudzaifah sampai tiga kali, dan Hudzaifah selalu berpaling.

Kemudian pada kali ketiganya Hudzaifah menghadap kepadanya dan berkata, “Wahai Shilah, kalimat (Laa Ilaaha illa Alloh) itu akan menyelamatkan mereka dari Neraka.” Dia mengucapkannya sebanyak tiga kali.

[HR. Ibnu Majah, no. 4049; Al-Hakim, no. 8460, 8636; Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, no. 1870. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shohihah, no. 87]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *