Tulisan menarik dari Hartono Subirto, WNI yang lama tinggal di Saudi.
Orang Saudi Dan Tentara….
1. Dahulu sekali, pernah ada check poin mendadak ditengah jalan. Semua kendaraan diperiksa, sopir wajib menunjukkan surat kendaraan dan SIMnya.
Saat giliran saya, tiba-tiba petugas yang memeriksa berganti orang. Diapun meminta surat mobil dan SIM saya. Namun yang janggal adalah, saat dia memeriksa SIM nya, jelas terlihat kalau SIM saya dia baca secara terbalik. Saat setelah melewati check poin, saya bertanya kepada teman sebelah saya yang kebetulan sudah lama tinggal di Arab Saudi. Mengapa petugas itu membaca SIM saya secara terbalik. Dengan enteng teman saya menjawab، kalau polisi itu buta huruf karena memang tidak pernah sekolah. Dari dia saya tahu bahwa pekerjaan polisi dan tentara adalah pilihan pekerjaan terakhir apabila dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan dimana-mana. Karena kekurangan personil, maka yang tidak sekolahpun bisa menjadi polisi atau tentara. Makanya polisi atau tentara muda Saudi, badannya banyak yang kurus-kurus… 🙂
2. Dahulu lagi, saya pernah berkunjung ke asrama tentara di kota Dahran. Ingin sekali saya mendapatkan cerita tentang bagaimana mereka bertempur melawan pasukan Iraq, pada perang teluk pertama.
Namun jawaban mereka justru mengagetkan saya. Mereka bilang bahwa pasukan yang berada di garis depan adalah tentara dari Mesir yang diperbantukan oleh pemerintah mereka. Selain tentunya tentara Amrik. Tentara Saudi, cukup jauh berada di garis belakang. Paling kalaupun ada hanya satu atau dua. Banyak Tentara Mesir yang tewas saat itu, maka Arab Saudi dan GCC memiliki hutang budi yang sangat besar pada Mesir. Kita selalu lihat apapun permintaan bantuan Mesir saat ini akan selalu dipenuhi oleh Saudi dan GCC. Sementara untuk tentara Amrik yang modar, bayarannya adalah membiayayai keluarga tentara itu sampai seumur hidup dengan layak di tambah pendirian pangakalan udara pada negara-negara GCC.
3. Guru saya, seorang tentara angkatan Udara Saudi Arabia, pangkat terakhir adalah Marsekal Madya. Namun sebelum bergabung dengan militer beliau pernah belajar di Universitas Al-Qaseem sampai meraih gelar Phd.
Saat masih kuliah, beliau selalu ikut dalam jihad di Afghanistan disela liburan kuliah. Beliau bergabung tentara Saudi setelah perang teluk pertama. Tujuan beliau bergabung karena beliau tidak rela banyak tentara Amrik berkeliaran di Saudi dengan fasilitas super mewah. Dia berharap dia yang akan menggantikan posisi para tentara amrik itu. Walaupun akhirnya belum berhasil secara sempurna saat beliau pensiun. Abdurahman putera beliau yang saat ini meneruskan menjadi tentara angkatan Udara KSA. Terakhir saya bertemu dengan Abdurrahman, saya diajak ke kantornya dan melihat helikopter yang beliau kendarai saat mengawal royal family (keluarga Kerajaan) dari udara.
4. Abu Shaleh saya memanggil beliau, saya lupa nama aslinya. Seorang tentara berpangkat kolonel yang saya temui dimarkas tentara sekaligus pangkalan udara Amrik di kota Hafral Bathin, bagian Timur Laut. Besar, tegap, seorang alim.dengan jenggot lebat. Kabar terakhir beliau harus mendekam lama dalam penjara, karena ketahuan mengumpulkan donasi untuk taliban yang saat itu sedang berperang melawan Amrik di Afghan.
5. Seorang tentara, adik dari teman kantor saya. Hanya memiliki sebelah tangan setelah terluka sewaktu bertempur melawan Houti di bagian selatan Saudi. Beliau bercerita, adalah sebuah kesalahan ketika Arab Saudi membantu pemerintah Yaman yang waktu itu melawan pemberontak Houti. Banyak tentara Saudi yang tewas, bukan karena kekurangan alat tempur, tapi kesiapan mental yang belum mencukupi.
Ada hal yang ingin saya garis bawahi pada tulisan saya diatas.
1. Bahwa apabila Arab Saudi akhirnya ikut dalam pertempuran melawan Iran. Memiliki persenjataan canggih belum cukup, apabila para tentara belum memiliki kesiapan mental untuk bertempur. Kita ketahui, tentara Saudi yang ada saat ini, terlahir dalam era keemasan Saudi, dari kecil mereka hidup dalam kenikmatan materi. Apalagi menjadi tentara masih pilihan terakhir dari object pekerjaan, apakah yakin mereka punya kesiapan mental? saya kok menyangsikan hal itu.
Di satu sisi, kita pernah mendengar seorang Saudi yang bernama Alkhattab, mujahidin yang sangat di segani di Afghanistan karena kehebatan dan keberanian tempur beliau. Dan masih banyak lagi pejuang tangguh yang berasal dari Saudi di berbagai medan Jihad. Mengapa kok seperti ada perbedaan..?. Ini karena pemahaman bahwa entitas sebagai tentara KSA adalah sebuah pekerjaan sementara berjihad dalam membela agama adalah jalan suci. Maka jalan terbaik agar bisa memiliki mental yang kuat dalam melawan Iran adalah menjadikan perang dengan Iran sebagai perang suci yang membela agama. Pilihan lainnya adalah menggunakan tentara dari negara sekutu seperti Mesir, Sudah dan Pakistan, yang memang sudah memiliki mental perang.
2. Bahwa apabila Arab Saudi lebih menghindari ikut berkonfrontasi melawan Iran, maka akan terbit fatwa-fatwa baru terkait hukum dari pemahaman Syi’ah yang lebih moderat yang lebih melunakkan Iran.
Salam.
*sumber: fb







yahh.. klo Saudi perang lawan Iran dijadikan perang suci.. y ntar makin jelas kliatan.. klo Saudi dipihak US-zionis..
opini random dari si penulis..
saudi punya pakta pertahanan dg pakistan negara nuklir dan airforce terkuat di asia selatan, janji gak mewek kalo diserang kiri kanan sm saudi pakistan kekuatan sunni plus mungkin ditambah suriah?