✍🏻Rumail Abbas
Sejak kapan saya lupa, tapi masih di bulan puasa, saya direkomendasikan video dari kanal “Little Chinese Everywhere”. Awalnya saya nonton ketika dia pergi sendirian berbagai negara, kemudian ke Irak bersama rekannya (dan ditemani guide lokal), dan keterusan.
Sehabis berbuka, saya buka laptop untuk menyiapkan workflow kerjaan saya. Tapi saya terhenti di videonya “Little Chinese Everywhere” lagi karena ini video pertama dia pergi sendirian ke Iran, persis sebelum perang.
Yang saya tampilkan di bawah ini adalah kedatangannya persis ke Iran. Enaknya nonton orang nge-vlog adalah: kita mengambil pengalaman dari orangnya langsung, apalagi solo-kameramen seperti ini (mungkin dia pakai GoPro).

Di menit-menit awal, dia ngomong bahwa Iran adalah salah satu destinasi yang ingin dia kunjungi sejak lama.
Kenapa?
Karena baginya, dari sekian banyak alasan, Iran adalah satu-satunya negara yang sering disalahpahami (lihat tangkapan layar di bawah).
Orang-orang Iran ternyata ramah-ramah. Kadang dia beli sesuatu (desert atau camilan), tapi penjualnya bilang:
“Tidak perlu bayar. Ini untuk Anda. Selamat datang di Iran.”
Hal semacam ini juga saya dapati ketika dia di Irak. Tidak sekali dua dia memaksa penjualnya untuk menerima uang.
Uniknya, baik di Iran maupun Irak, ketika bersama orang tentu saja, dia sering ditawari untuk mampir ke rumah:
“Dari mana?”
“Saya dari China.”
“Masya Allah. Mau ziarah ke sini?”
“Saya ingin berkunjung ke beberapa tempat.”
“Masya Allah. Ahlan wa sahlan. Syarraftumuni, ayo mampir ke rumah. Nanti saya buatkan makanan.”
Seorang kawan saya yang kebetulan mukanya Arab pernah bikin social experiment di Iran dan Irak (nanti akan saya carikan videonya). Kebetulan dia seorang vlogger, dan bikin uji coba sosial di beberapa negara. Niatnya, sih, mau memvalidasi stereotipe orang-orang.
Dia sengaja membikin video ketika datang ke Irak (entah bertepatan Arba’in atau apa, saya lupa), dan ngomong ke orang lokal:
“Kalau ada orang bernama Umar datang ke Irak, Bapak bagaimana?”
Kepada orang lain, dan tentu saja acak (seperti dia mau mengambil minuman yang disediakan orang untuk pejalan kaki):
“Kalau ada orang bernama Abu Bakar datang ke sini, Anda bagaimana?”
Yang paling lucu adalah ketika dia membeli makanan, dan kepada orang-orang yang sedang makan di situ ditanya:
“Ammu, mau nanya. Jika ada orang bernama Ustman datang ke sini, Anda bagaimana?”
Sontak, salah satu orang yang sedang makan berseloroh:
“Itu kamu? Kamu yang namanya Utsman?”
Dia agak kaget dengan sergapan pertanyaan itu. Tapi sebelum ia menjawab, si Bapak yang nanya tadi meneruskan:
“Kalau kamu namanya Utsman, sungguh kami senang jika kamu bisa datang ke rumah saya. Saya mau membuatkan makanan untukmu.”
Semua orang acak yang ditemuinya, dan diberi pertanyaan yang sama, tanpa script dan tanpa skenario, menjawab dengan nuansa yang persis:
“Saya tidak ada masalah. Siapapun boleh datang ke Irak. Siapapun boleh ziarah ke Masyhad. Kami senang dengan umat muslim, dan kami mencintai umat muslim.”
Pesan yang ingin saya sampaikan di status ini adalah apa yang disampaikan kanal di bawah ini: kadang Iran disalahpahami bukan oleh mereka yang datang ke sana, tapi termakan bualan orang saja.
Taqiyah?
Dari semua orang yang diwawancarai secara acak begitu, ditanyai secara random begitu, terlalu bagus untuk disebut taqiyah. Mereka taqiyah untuk apa, lawong vlogger-nya cuma satu doang
[VIDEO DI IRAN]






ah karena iran punya hubungan diplomasi yang bagus dengan china dan Rusia saja