RISMON SIANIPAR TAK MEMILIKI SISA REPUTASI UNTUK BERADU ARGUMENTASI, DIA HAKEKATNYA TELAH MATI DAN MENJADI BANGKAI YANG BERJALAN
Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
Salah satu tambahan kesombongan Rismon Sianipar, setelah dirinya melakukan pengkhianatan adalah tantangan absurdnya kepada klien kami Roy Suryo cs, untuk beradu argumentasi penelitian terkait ijazah palsu Jokowi. Menurut Rismon, dia akan menjelaskan faktor ‘kebaruan’ yang menyebabkan hasil penelitiannya berkesimpulan ijazah Jokowi yang sebelumnya palsu ‘disulap’ Bim Salabim menjadi ‘Asli’.
Dalam tradisi keilmuan, dikenal adagium :
“Peneliti boleh salah, tapi tak boleh bohong.”
Ini adalah ungkapan yang menjadi panduan moral sebagai seorang peneliti. Berbeda dengan peneliti/ilmuan, politisi justru wajib berbohong agar tak bisa disalahkan.
Dalam kasus ijazah palsu, Rismon Sianipar telah melakukan kebohongan sekaligus kesalahan, yaitu:
Pertama, Rismon berbohong, tidak jujur, bahwa dirinya punya masalah dengan ijazah S2 dan S3 dari Universitas Yamaghuci Jepang, yang belakangan dilaporkan oleh relawan kubu Jokowi. Andaikan Rismon jujur sejak awal punya masalah ini, tentu kami menyarankan dirinya tidak terlibat dalam perjuangan membongkar kasus ijazah palsu Jokowi.
Secara etika dan moral, Rismon tak memiliki sandaran Legitimasi untuk mempersoalkan ijazah Jokowi. Bagaimana mungkin, Rismon bisa menyampaikan secara lantang ijazah Jokowi 11.000 triliun % palsu, sementara ijazahnya sendiri bermasalah?
Dan sebenarnya, yang lebih sahih tentang alasan kenapa Rismon Sianipar mengubah hasil penelitian bukan karena adanya perubahan analisa, data, metode dan kesimpulan. Melainkan, adanya tekanan kasus ijazah palsu Yamaguchi Jepang miliknya, yang dilaporkan kubu Jokowi.
Belum lagi, ada dugaan kasus pemalsuan dokumen keterangan kematian Rismon Sianipar yang turut dilaporkan kubu Jokowi. Jika kasus ini dilanjutkan, yang bakal terseret ke penjara bukan hanya Rismon, melainkan juga keluarganya yang terlibat atau memiliki andil terbitnya surat keterangan kematian Rismon Sianipar.
Jadi, kebohongan Rismon Sianipar soal kasus ijazah S2 dan S3 Jepang, meruntuhkan Legitimasi sebagai seorang peneliti. Revisi Kesimpulan ijazah Jokowi menjadi asli, juga tak bernilai. Apalagi, Rismon Sianipar sama sekali tak memiliki nilai dan legitimasi untuk menantang klien kami beradu argumentasi terkait penelitian ijazah palsu Jokowi.
Kami sendiri, telah melarang Roy Suryo dkk untuk berdebat dengan Rismon. Karena berdebat dengan seseorang yang telah meruntuhkan wibawa dan reputasinya, tidak menambah apapun kecuali hanya merendahkan diri sendiri dan menurunkan martabat dan kehormatan.
Kedua, kesalahan Rismon selain berdamai dengan Jokowi berdalih penelitian baru, juga melakukan penyerangan terhadap kawan seperjuangan, yang selama ini berjuang membela dirinya, saling menolong dan saling melindungi.
Kesalahan Rismon juga karena telah menggangap permintaan maaf akan menyelesaikan kasusnya, termasuk dugaan pemalsuan ijazah S2 dan S3 Jepang. Rismon tak sadar, saat ini dia sedang dijadikan ‘sapi bajak’ untuk bekerja melayani Jokowi, sebelum akhirnya menjadi ‘sapi korban’ untuk disembelih, sebagai tumbal kezaliman Jokowi.
Rismon, telah menjadi sapi bajak yang bukan saja untuk memperbaiki reputasi Jokowi, melainkan reputasi Gibran. Rismon tidak hanya meralat penelitian terkait ijazah, melainkan juga terkait Gibran. Padahal, tak ada satupun faktor kebaharuan yang dijadikan dalih untuk kasus ‘Gibran End Game’.
Alih-alih Gibran End Game, saat ini Rismon yang justru End Game. Rismon sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, taklid buta bekerja melayani Jokowi, termasuk dengan menyerang kawan seperjuangan.

Kesalahan berikutnya, jika Rismon sudah tidak dibutuhkan lagi maka Rismon akan ditumbalkan melalui kasus ijazah S2 S3 dan Surat Kematian. Karena komitmen Jokowi hanya terkait kasus fitnah dan pencemaran.
Apalagi, mayoritas Relawan Jokowi tak ridlo Rismon mendapatkan RJ dari Jokowi. Akhirnya, jalan tengah pun didapat: Rismon di SP-3 dalam kasus ijazah palsu Jokowi, namun kasus ijazah palsu Rismon sendiri akan tetap dilanjutkan.
Kesalahan Rismon yang paling fatal adalah dia telah membunuh dirinya sendiri. Dia telah membunuh reputasi, harga diri, kehormatan dan masa depannya.
Dalam sebuah podcast sebelum dia mengubah hasil penelitan, dia telah menyatakan tak akan menarik bukunya dan berdamai dengan Jokowi. Dia lebih memilih mati daripada mendapat predikat pengkhianat.
Dan hari ini, Rismon hakekatnya adalah bangkai yang berjalan. Secara reputasi, dia tak memiliki eksistensi lagi. Dia telah mati dan menyematkan predikat pengkhianat pada dirinya sendiri.
Rismon tak akan bisa tidur nyenyak. Karena selain harus sibuk melayani Jokowi sebagai harga yang harus dibayar, dia juga harus sibuk ‘mendebat’ pernyataan dirinya sendiri yang sudah viral dalam ribuan video yang ditonton oleh jutaan mata rakyat Indonesia. Kasihan sekali, ingin tidur nyenyak dengan minta ampun JOKOWI, malah jadi insomnia dihantui omongannya sendiri. (*)






