✍🏻Agustinus Edy Kristianto
Kali ini saya bawakan kabar “baik” yang semoga bikin Anda “optimistis”. Soalnya selama ini saya dituding menyebarkan pandangan “pesimistis” tentang negara ini, terutama oleh kaum yang mapan secara bisnis dan politik. Itu biasa dalam hidup!
Kontan (11/12/2025) menulis “Pamor Saham Grup Bakrie Kinclong Lagi”. Masuknya Grup Salim disebut memperbaiki reputasi emiten Bakrie. Salah satunya PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang kenaikan harga sahamnya mencapai 183,24%. Kabar baik, bukan?

BRMS mengendalikan PT Linge Mineral Resources (LMR) yang pada status sebelumnya saya singgung memegang konsesi 36.420 hektare dan izin penambangan emas. Konsesi LMR itulah yang dikatakan Jaringan Advokasi Tambang Nasional (JATAM) tumpang tindih dengan PT Tusam Hutani Lestari (THL) yang diduga kuat berhubungan dengan bisnis Prabowo Subianto.
Ada kemungkinan kuat aktivitas perusahaan-perusahaan itu berhubungan dengan penyebab kerusakan hutan di hulu yang memicu banjir di Linge. Saya lampirkan foto citra satelit per 2025 yang memperlihatkan pembukaan lahan untuk proyek emas Linge Abong yang resmi beroperasi pada 2021.


BRMS dikendalikan Emirates Tarian Global Ventures (SPC) yang menggenggam 25,10%. Anthony Salim adalah orang yang diduga kuat berada di balik perusahaan asing yang didirikan di Kepulauan Cayman itu. Emirates agresif masuk BRMS pada 2021.
Kalau Presiden Prabowo kerap menyebut banyak kekayaan alam Indonesia lari ke tangan asing, kali ini saya bisa berikan contoh nyatanya.
BRMS tercatat sebagai perusahaan yang mayoritas sahamnya dipegang investor asing karena porsi terbesar dikuasai Emirates (Cayman). LMR yang menggarap proyek emas Linge Abong adalah perusahaan penanaman modal asing (PMA). Data registrasi di bursa per Oktober 2025 menunjukkan pemegang saham asing di BRMS sebesar 54,2%. Selain Emirates, ada GLAS TRUST (SINGAPORE) LTD sebagai pemegang saham asing lainnya.
Kenapa asing-asing itu (atau orang-orang Indonesia yang menyamar pakai kendaraan asing karena berbagai alasan) berminat tanam modal di Indonesia? Karena negara kita kaya.
Saya cek laporan keuangan BRMS (September 2025), jumlah cadangan di Linge Abong sebanyak 2 juta ton dan sumber daya (potensi) mencapai 7 juta ton. Per September 2025, perusahaan sudah keluar duit US$131,4 juta (setara Rp2,1 triliun, kurs Rp16 ribu) mulai dari pengembangan sampai eksplorasi.
Kalau berani keluar Rp2,1 triliun berarti logikanya ada potensi bisnis yang lebih besar lagi. Saya cek laporan teknis yang mereka publikasikan sendiri untuk tahu bagaimana hitungannya.
Untuk cadangan, kadar rata-rata emas 1,8 gram/ton dan perak 7,1 gram/ton. Artinya, dengan cadangan 2 juta ton, total kandungan emasnya 3,6 juta gram (setara Rp7,9 triliun, asumsi harga emas Rp2,2 juta/gram) dan perak 14,2 juta gram (setara Rp426 miliar, asumsi harga perak Rp30 ribu/gram). Nilai total cadangan sekitar Rp8,3 triliun. Untuk sumber daya, kadar rata-rata emas 1,58 gram/ton dan perak 7,07 gram/ton. Dengan asumsi dan perhitungan yang sama dengan cadangan diperoleh total nilai sumber daya Rp25,8 triliun.
Dengan demikian total nilai cadangan dan sumber daya proyek Linge Abong itu mencapai Rp34 triliun!
Kabar yang “membahagiakan”, bukan?
Orang bisa berdalih aktivitas bisnis itu akan memberikan penerimaan negara seperti royalti, pajak… Tapi penerimaan negara sebesar apa pun tak akan sebanding dengan nyawa rakyat yang hilang karena banjir yang disebabkan kerusakan alam.
Saya pikir izin tambang emas untuk entitas asing ini perlu dievaluasi, atau bila mungkin dicabut permanen saja. Alam sudah kasih kode keras, nyawa rakyat melayang — sekinclong apa pun kinerja saham perusahaan, tak ada artinya jika dibandingkan nyawa manusia.
Itu pendapat “pesimistis” saya. Tidak tahu apa pendapat presiden kita: mau berpihak pada modal asing atau nyawa rakyatnya sendiri.
Salam,
AEK.







Komentar