Keinginan Amerika terhadap SDF di Suriah adalah mendukung integrasi mereka ke dalam pasukan pemerintah Suriah.
Dengan begitu AS akan memiliki “Kuda troya” di dalam Suriah. Unsur SDF yang melebur pasti jadi aset berharga buat CIA. Jika terjadi apa-apa di masa depan, orang-orang ini bisa digerakkan oleh Amerika.
Sayangnya niat AS tidak bisa berjalan mulus. Jaulani tahu ini, makanya ia santai saja. Pemerintah Suriah mengambil posisi sebagai pihak yang penuh kesabaran, merangkul, membujuk, namun selalu dikhianati oleh SDF yang ngelunjak. Selain itu jangan kontra AS, toh AS sendiri tak mungkin mau dukung SDF yang tak tahu diri itu. Strategi ini sukses memutus pendukung utama musuh.
Ironisnya yang menolak peleburan justru ada di tubuh SDF sendiri. Menurut akun-akun pro pemerintah Suriah, penolak tersebut adalah jama’ah Qandil dan antek-anteknya.
Qandil adalah nama gunung di perbatasan Irak-Iran yang menjadi “safe house” (tempat perlindungan) bagi tokoh penting Kurdi PKK setelah kabur dari Turki, tempat menyusun gerakan politik Kurdi di 4 negara sekitar (Iran, Irak, Turki, Suriah). Geng Qandil menginginkan SDF menjadi negara federal, dengan begitu pengaruhnya di Suriah secara ekonomi dan politik tetap ada.
Sesuatu yang pasti ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Jaulani. Hal seperti itu hanya memicu konflik lain di masa depan, baik dengan pemerintah maupun suku-suku non Kurdi.
Amerika tak bisa apa-apa, Perancis pun cuma jadi penonton. Semua kondisi lapangan setahun terakhir memperkuat narasi pemerintah Jaulani.
Sesuai perjanjian Jaulani dengan Mazloum Abdi (komandan tertinggi SDF pro AS), deadline peleburan adalah 25 Desember lalu.
Setelah deadline berakhir, milisi SDF justru menantang pemerintah. Kesabaran pemerintah habis. Dimulai dari distrik Sheikh Maqsoud, SDF mulai ditangani secara militer. Dari Sheikh Maqsoud, pemerintah beralih ke Deir Hafir dan terus meluas ke timur.
Ternyata bukan SDF yang jadi Kuda troya bagi Amerika, Jaulani lah yang duluan melepas Kuda troyanya di wilayah SDF, yaitu suku-suku Arab Badui.
SDF digebuk dari 2 sisi. Di depan ada serangan pemerintah, di dalamnya sendiri dikoyak-koyak oleh suku Badui.
Walhasil 2 hari ini pemerintah Suriah sudah merebut wilayah yang setara luas area pendudukan IsraeI, sekitar 20 ribu km persegi. (area Hijau yang berhasil dikuasai pemerintah Suriah dalam 2 hari di basis SDF, tersisa kuning tinggal menghitung waktu)
SDF sama sekali tak berkutik. Kini harapan mereka tersisa di 2 benteng yang dulu dibanggakan sebagai simbol melawan ISIS, yaitu Kobane dan Hasakah yang memang mayoritas Kurdi.
Kota Raqqah yang pernah dijadikan ibukota ISIS, tadi baru saja kembali ke pemilik aslinya, yaitu mujahidin. Sebagai gambaran, 2013 Raqqah dibebaskan mujahidin dari Assad, hanya beberapa bulan kemudian dirampas oleh ISIS. 2017 direbut oleh SDF. Dan sekarang akhirnya kembali pada mujahidin.

Perang melawan SDF tampak lebih enjoy bagi pasukan Suriah. Jaulani ketika jadi milisi berhasil menaklukkan negara, apalagi kini ia yang jadi pengendali negara. Sumber daya, intelijen, koordinasi, dukungan rakyat, semua dia pegang. Bisa apa SDF.
Kalaupun SDF menyerah, langsung terima saja dan taruh di tempat tidak enak. Anggotanya disuruh shalat dan tugaskan ke perbatasan IsraeI. 😀
Ada satu hal penting yang jarang dibahas orang, jika Jaulani menang atas SDF, maka kendali operasi anti ISIS di Suriah sepenuhnya ada di tangannya. Sesuatu yang meningkatkan “bargaining” (daya tawar). Artinya negara lain jangan macam-macam ke Suriah, nanti ISIS pada lepas baru tau rasa. 😀
(Pega Aji Sitama)







Komentar