Oleh: Erizal
Tak ada angin, tak ada hujan, Jokowi menyatakan dukungan Prabowo-Gibran dua periode. Tapi anehnya Jokowi mengaku menyampaikan dukungannya itu ke relawan, bukan ke yang lain. Sampai dua kali Jokowi mengulangi bahwa dia menyampaikan dukungan itu ke relawan. Padahal dia pasti sadar bahwa dia berbicara di hadapan media. Dan bukan mustahil, kehadiran media itu atas inisiatif dirinya pula. Artinya, menyampaikan ke relawan, hakikatnya kepada semua orang. Pandai betul Jokowi berakting seolah alamiah demi target politiknya.
Kiranya tak ada bukti bahwa Jokowi sejak awal sudah menyampaikan dukungan Prabowo-Gibran dua periode di hadapan relawan. Jokowi menyatakan dukungan Prabowo-Gibran dua periode baru pertama kali ini pula kita dengar. Bagaimana bisa Jokowi mengaku sudah sejak awal pula menyampaikannya kepada relawan. Yang terlihat sejak awal justru Gibran ingin menyalip Prabowo di detik-detik awal usai pelantikan. Bahkan, Jokowi sendiri yang menasihati Gibran, itupun terlihat karena terpaksa, agar jangan terlalu maju, Ojo Kemajon.
Apa sebetulnya target politik Jokowi saat ini mengaku bahwa akan mendukung Prabowo-Gibran dua periode? Mengaku saat ini, tapi mengaku sudah sejak awal pula menyampaikan dukungan Prabowo-Gibran dua periode itu di hadapan relawan. Padahal belum lama ini relawan Jokowi jelas-jelas berani menghantam Prabowo karena mencopot Budi Arie Setiadi. Mengata-ngatai Prabowo arogan, habis manis sepah dibuang, mengemis minta dukungan, dan lain². Kok tiba² saja Jokowi mengaku sejak awal mendukung Prabowo-Gibran dua periode?
Jokowi sendiri juga pernah mengatakan bahwa belum pernah ada Presiden untuk periode kedua, mengambil Wakil Presidennya di periode pertama untuk maju lagi. Artinya, itu nyaris mustahil dan Jokowi menyadarinya sejak awal. Jadi yang disadari Jokowi sejak awal itu bukan menyampaikan dukungan Prabowo-Gibran dua periode kepada relawan, melainkan Prabowo-Gibran dua periode itu mustahil. Makanya Jokowi sejak awal mengambil ancang² masuk partai atau membuat partai baru, hingga akhirnya memutuskan membesarkan PSI.
Agaknya ada situasi politik saat ini, dalam perhitungan politik Jokowi sebagai seorang politisi yang seringkali digembar-gemborkan relawannya sebagai politisi yang belum terkalahkan, sehingga memaksa Jokowi untuk menyampaikan dukungan Prabowo-Gibran dua periode sejak awal dengan tameng, khusus relawan. Padahal relawan itu sendiri, yang terus saja dipertahankan, bukti bahwa Jokowi punya target politik sendiri. Lagian partai mana pula yang mau mendukung Prabowo-Gibran dua periode, kecuali PSI? Ijazah Gibran sedang digugat pula.
Yang penting agaknya bukan lagi Gibrannya, melainkan Prabowonya. Situasi sudah berubah. Gibran sudah pasti tak akan didukung dua periode mendampingi Prabowo seperti dulu. Jokowi menyampaikan dukungan terbuka untuk Prabowo-Gibran dua periode seperti mengibarkan bendera putih lebih cepat pada Prabowo. Tapi Prabowo tetap harus hati-hati. Tak boleh lengah dengan manuver politik baru Jokowi ini. Pilpres masih terlalu jauh. Malah Undang-undangnya pun belum dibuat. Seperti Gerindra mengumumkan Prabowo maju lagi, Jokowi mendukung Prabowo-Gibran dua periode pasti punya target sendiri.
Pasca demo berakhir rusuh kemarin, politik bergerak cepat. TNI cepat mengantisipasi, tapi TNI pula yang dituduh hendak menerapkan darurat militer. Darurat militer dianggap semudah memesan makanan lewat GO-FOOD. Reformasi 98 saja tak terpikirkan Darurat Militer. Prabowo langsung pakai diksi makar dan teror. Ia mengaku tak akan mundur setapak pun. Berarti ada indikasi yang ingin dia mundur. Prabowo langsung pula melakukan reshuffle secara tiba-tiba. Bukan sekali, tapi dua kali, malah bisa tiga kali. Bisa jadi juga dukungan Prabowo-Gibran dua periode dari Jokowi, terkait itu.
Mungkin tak salah kalau dikatakan dua kali reshuffle yang dilakukan presiden, adalah usaha membersihkan geng Solo. Kendati dibantah Jokowi, bahwa ia hanya menitip satu nama, yakni Pratikno. Tapi setidaknya dua kali reshuffle, terlihat merugikan Jokowi secara politik. Kemarahan relawan adalah kemarahan Jokowi. Tapi Jokowi tampil mendukung Prabowo-Gibran dua periode dengan tameng relawan, bukan luapan emosi. Ingatlah, pemakzulan Prabowo muncul pertama kali dari relawan Jokowi, setelah pemberian amnesti dan abolisi, hingga terjadi demo berakhir rusuh kemarin. Ini catatan serius.
Selain bermaksud mengibarkan bendera putih, bisa jadi juga pernyataan Jokowi mendukung Prabowo-Gibran dua periode dengan tameng relawan itu, usaha untuk menghentikan lanjutan dari apa yang akan dilakukan Presiden Prabowo. Yang paling disorot apa lagi kalau bukan Reformasi Polri, termasuk pergantian Kapolri. Pergantian Kapolri dikritik pula relawan Jokowi dengan alasan prestasi Kapolri. Dan sudah rahasia umum, back up terbesar Jokowi selama menjanat adalah Polri. Polri berubah dratis 10 tahun terakhir. Kapolri sudah terlalu lama menjabat dan memang sudah seharusnya diganti. (*)







Komentar