Di tengah upaya menjaga persatuan umat Islam, Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, pernah mengeluarkan pernyataan tegas yang mengejutkan banyak pihak. Beliau menyatakan bahwa Syiah sejati yang mengikuti ajaran Ahlul Bayt tidak pernah mencaci, menghina, atau mencela sahabat Nabi Muhammad SAW, termasuk Abu Bakar, Umar, Utsman, dan terutama istri-istri Nabi seperti Aisyah RA (Ummul Mukminin). Praktik semacam itu, menurut Khamenei, bukan bagian dari mazhab Syiah asli, melainkan agenda “Syiah buatan Inggris” atau “British Shia” yang sengaja dirancang untuk memecah belah umat Islam.
Fatwa paling ikonik dikeluarkan pada 30 September 2010. Khamenei menegaskan: “Menghina istri-istri Nabi sama dengan menghina Nabi sendiri. Ini haram dan dilarang mutlak.” Beliau menambahkan bahwa Imam Ali AS memperlakukan Aisyah dengan hormat meskipun dalam situasi konflik (Perang Jamal), karena statusnya sebagai istri Nabi. Fatwa ini muncul sebagai respons langsung terhadap kontroversi yang dipicu oleh seorang tokoh bernama Yasser al-Habib, seorang ulama Syiah asal Kuwait yang tinggal di Inggris.
Yasser al-Habib dikenal karena konten provokatifnya di saluran TV Fadak dan organisasi Mahdi Servants Union di London. Ia secara terbuka mencaci sahabat Nabi, merayakan “hari kematian” Aisyah, dan menyebarkan narasi ekstrem yang menuduh tokoh-tokoh Sunni sebagai musuh. Khamenei menyebut kelompok seperti ini sebagai “MI6 Shia” atau “London-made Shia”, artinya Syiah yang didukung atau dimanfaatkan oleh intelijen Inggris (MI6) untuk memprovokasi konflik sektarian Sunni Syiah. Tujuannya, menurut Khamenei, adalah “divide and rule”, memecah umat Islam agar lemah menghadapi kekuatan Barat.
Pernyataan Khamenei ini bukan sekadar opini pribadi. Ia sering mengulanginya dalam pidato-pidato, seperti di Kermanshah pada 2011, di mana beliau mengatakan, “Mereka membayar pendeta Syiah palsu untuk menghina Aisyah atas nama Syiah.” Ulama Syiah senior seperti Ayatollah Naser Makarem Shirazi juga menyebut Yasser al-Habib sebagai “agen bayaran” atau “orang gila” yang merusak nama Syiah. Bahkan Yasser al-Habib sendiri menolak fatwa Khamenei dan mengkritiknya sebagai “ulama palsu”.
Mengapa istilah “buatan Inggris” begitu sering muncul? Karena Yasser al-Habib tinggal di Inggris sejak diusir dari Kuwait pada 2003 hingga 2005 atas tuduhan menghina Sunni. Di sana ia mendirikan masjid Al-Muhassin di Buckinghamshire dan menyiarkan kontennya secara bebas, meskipun kontroversial. Bagi Khamenei, hal ini menjadi bukti adanya perlindungan Barat terhadap kelompok ekstremis fringe yang sengaja memprovokasi untuk merusak citra Syiah dan memicu permusuhan antar umat.
Fatwa dan pernyataan Khamenei ini mendapat dukungan luas dari ulama Syiah arus utama, termasuk Ayatollah Sistani, serta dipuji sebagian kalangan Sunni sebagai langkah positif untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah. Namun kelompok ekstrem seperti pengikut Yasser al-Habib tetap menolaknya dan terus menyebarkan narasi radikal.
Pada akhirnya, pesan Khamenei jelas: Syiah asli berfokus pada kecintaan kepada Ahlul Bayt, bukan kebencian terhadap sahabat Nabi. Praktik mencaci maki bukan ajaran Islam, melainkan alat fitnah yang dimanfaatkan pihak luar, termasuk yang disebut “buatan Inggris”, untuk melemahkan umat. Di era informasi digital saat ini, menjaga lisan dan sikap dari ucapan yang memecah belah menjadi tanggung jawab bersama agar umat Islam tetap bersatu menghadapi berbagai tantangan.







Janji taqiyah dari sekte syiah
https://insists.id/menagih-janji-kaum-syiah/
nah tuh… jelaskan?
Hanya orang islam yang literaturnya lemah yang mengatakan siyah kafir