Suka Sesama Jenis Itu Ujian, Bukan Identitas untuk Dilampiaskan

Suka Sesama Jenis Itu Ujian, Bukan Identitas untuk Dilampiaskan

✍🏻Kang Irvan Noviandana

Kita semua, laki-laki dan perempuan, diciptakan Allah dengan satu medan ujian yang sama yaitu syahwat.

Setiap manusia memiliki kecenderungan kepada sesuatu yang ia sukai. Tapi tidak semua yang disukai itu halal untuk dimiliki, apalagi dilampiaskan. Syariat tidak pernah menyamakan antara keinginan dan kebolehan.

Laki-laki yang menyukai perempuan pun tidak otomatis bebas melampiaskan syahwatnya. Ia hanya boleh menyalurkannya melalui jalan yang halal. Bahkan tidak semua perempuan boleh dinikahi, ada yang mahram, ada wanita yang masih dalam ikatan pernikahan, ada yang haram karena sebab tertentu. Artinya, heteroseksual sekalipun tetap dibatasi oleh rambu-rambu halal dan haram.

Karena itu, jika ada laki-laki yang memiliki dorongan kepada sesama jenis, selama dia tidak memilih dorongan itu dan tidak mewujudkannya dalam tindakan, hemat kami dia tidak sedang berdosa karena lintasan hati yang tidak diwujudkan tidak dihukumi sebagai dosa. Di sinilah letak ujiannya.

Bagi seorang mukmin, dorongan yang tidak sesuai dengan ketentuan syariat bukan untuk dirayakan, tetapi untuk dikendalikan. Sama seperti dorongan zina bagi heteroseksual, sama seperti keinginan memiliki yang bukan haknya, sama seperti syahwat lain yang harus ditahan karena Allah.

Kita semua diuji dengan cara yang berbeda-beda.
Ada yang diuji dengan dorongan yang sulit dikendalikan.
Ada yang diuji dengan sulitnya mendapatkan pasangan.
Ada yang diuji dengan ekonomi yang belum mampu untuk menikah.
Ada yang diuji dengan penyakit atau kondisi tertentu.

Tidak ada manusia yang hidup tanpa ujian.

Islam tidak menghukum seseorang karena kecenderungan yang tidak dia pilih. Tetapi Islam juga tidak membenarkan pelampiasan syahwat di luar batas yang telah Allah tetapkan dalam Al-Qur’an.

Intinya jika kamu memiliki dorongan tertentu, itu adalah ujian. Dan ujian bukan untuk diikuti, tetapi untuk dihadapi.

Kita semua sama-sama sedang berjalan dalam ujian masing-masing. Yang membedakan bukan jenis ujiannya, tetapi bagaimana kita meresponsnya di hadapan Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *