SOMASI SBY

Meski sudah lewat 3 hari, SBY atau Partai Demokrat yang diwakili Andi Arief, masih menunggu respon dari pihak-pihak yang sudah dilayangkan “somasi” terkait tuduhan/fitnah SBY dibalik heboh ijazah Jokowi.

Satu akun YouTube, yakni Kajian Online, yang dilayangkan somasi sudah menyerah dan meminta maaf kepada SBY dan Demokrat. Ini langkah yang baik dan layak dicontoh.

SBY dan Demokrat, yang diwakili Andi Arief, menerima baik permintaan maaf dari akun YouTube Kajian Online itu. Ini menjadi pelajaran agar tak diulangi lagi di masa depan. Bahwa SBY dan Demokrat benar-benar tak ada kaitannya dengan kasus ijazah yang dipersoalkan Roy Suryo Cs. Begitulah kira-kira penjelasan Andi Arief.

Akun YouTube Kajian Online cukup besar pengikutnya. Yakni, 733 ribu subscriber. Selain meminta maaf, Kajian Online juga mengaku menghapus semua konten yang terkait dengan SBY dan Demokrat tentang keterlibatan dalam kasus ijazah Jokowi. Tapi konten-konten terkait Roy Suryo Cs tetap ada. Karena itulah mungkin ia eksis.

Jurnalis senior Hersubeno Arief, ikut berkomentar terkait permohonan maaf akun YouTube Kajian Online ini, memang melihat konten-konten dari Kajian Online itu banyak yang terindikasi hoaks. Misalnya, postingan terbarunya digambarkan Roy Suryo Cs sudah ditangkap Polri dan dihukum 12 tahun penjara. Padahal jangankan Pengadilan, P21 dari Kejaksaan saja belum terlaksana.

Masih tersisa beberapa akun yang masih bertahan dari somasinya SBY yang sudah lewat batas waktu itu. Di antaranya, atas nama Budhius M Piliang dan Zulfan Lindan (podcast Unpacking Indonesia). Ia mungkin merasa tak bersalah dan tak takut, kalau berurusan dengan penegak hukum. Biasanya, dasarnya, adalah kebebasan berpendapat dan beropini.

Keseriusan dan kemantapan hati SBY dan Demokrat berserta kuasa hukumnya sedang diuji pula. Apakah sekadar gertak sambal atau bukan? Gertak sambal itu, ya seperti sambal. Kepedasan seolah kapok, tak besok saat makan, sambal itu pula yang pertama sekali dicari. Budhius M Piliang dan Zulfan Lindan sedang uji ilmu pula dan ia memang bukan orang baru dalam politik.

(Erizal)

Komentar