Sini gue terjemahin kepanikan Gibran sampai harus nyewa mulut Ahmad Ali

✍🏻Balqis Humaira

Publik hari ini lagi disuguhi satu tontonan yang kelihatannya rapi: Presiden keliling dunia urus geopolitik, Wapres keliling negeri urus rakyat. Di media sosial itu dijual sebagai pembagian tugas. Simetris. Elegan. Seolah negara ini dikelola dengan manajemen modern ala korporasi multinasional.
Masalahnya, politik nggak pernah sesederhana itu.

Ketika Ahmad Ali dari PSI nyeletuk bahwa Gibran bisa saja jadi “lawan” Prabowo di 2029, banyak orang mikir itu cuma omongan nyeleneh. Kebanyakan orang ngira itu cuma manuver bocah partai yang kebanyakan mic. Padahal, justru di situ kebocorannya: ada sesuatu yang sudah bergerak di balik tembok Istana.

Karena begini, dalam sejarah politik Indonesia, Wakil Presiden itu hampir selalu diposisikan sebagai ban serep. Tugasnya satu: jangan ganggu setir. Jangan lebih bersinar dari sopir. Jangan kelihatan lebih kerja dari yang pegang kemudi.
Dan di titik ini, Gibran jelas-jelas nggak mau main di peran itu.
Alih-alih masuk ke dalam jalur normal—lewat kementerian, lewat birokrasi yang semuanya dipegang orang-orangnya Prabowo—dia bikin jalur sendiri. Jalur bypass. Namanya manis: Lapor Mas Wapres.

Di mata rakyat, ini kelihatan keren. Responsif. Solutif. Pemimpin muda yang turun tangan langsung. Tapi di mata politik kekuasaan, ini bukan sekadar inovasi. Ini delegitimasi halus.
Karena pesan bawah sadarnya begini: kalau mau masalah cepat beres, jangan ke menteri. Jangan ke sistem. Ke Mas Wapres aja.
Pelan-pelan, tanpa pidato perang, tanpa drama, Gibran sedang membangun citra sebagai The Solver. Yang kerja. Yang turun. Yang gercep. Dan secara otomatis, yang kelihatan lambat, ribet, dan birokratis itu… ya kabinetnya Prabowo sendiri.
Kredit politiknya pindah tangan.
Dan ketegangannya makin kelihatan bukan cuma dari apa yang dilakukan, tapi kapan itu dilakukan.

Ada pola yang kebaca: tiap Prabowo lagi di luar negeri, lagi ngurus isu berat, lagi main di level global, di dalam negeri tiba-tiba muncul konten: Gibran di lokasi bencana, Gibran sidak, Gibran dengar keluhan warga.
Medsos pun langsung bikin narasi sendiri:
“Presidennya keliling dunia, yang kerja di lapangan Wapresnya.”
Ini narasi yang berbahaya. Dan Prabowo bukan orang bodoh buat nggak nangkep itu.
Makanya muncul teguran itu. Yang bunyinya kelihatan normatif: “Jangan wisata bencana.” Tapi dalam bahasa politik, itu bukan nasihat. Itu kode keras. Itu teguran senior ke junior: berhenti pakai penderitaan rakyat buat bangun panggung sendiri.
Dan begitu teguran itu keluar, kelihatan jelas: Istana gerah.

Sampai-sampai Sekretaris Kabinet harus turun tangan jelasin ke publik bahwa Presiden juga bekerja, juga memantau, cuma memang nggak semua kerja harus pakai kamera.
Kalau sebuah kekuasaan sudah perlu menjelaskan bahwa dirinya masih bekerja, itu artinya ada krisis narasi. Ada perebutan panggung. Ada yang mulai merasa panggungnya direbut.

Nah, di titik inilah omongan Ahmad Ali jadi kelihatan bukan asal bunyi.
Karena faktanya, Gibran memang tidak meleburkan dirinya ke dalam mesin partai koalisi. Relawannya tidak dibubarkan. Tidak diparkir. Tidak dilebur. Mereka dirawat.
Pelan-pelan, rapi-rapi, dia sedang bangun tiga hal paling penting dalam politik modern:
Brand sendiri.
Kanal sendiri.
Dan pasukan sendiri.

Kalau suatu hari pecah kongsi, dia nggak mulai dari nol. Dia sudah punya infrastruktur politiknya sendiri. Dan ini persis pola klasik semua “anak mahkota” yang nggak mau cuma nunggu giliran.
Di permukaan, mereka masih pakai jas yang sama. Masih satu barisan. Masih satu panggung. Tapi di bawah meja, permainannya sudah beda.
Ini bukan soal siapa lebih rajin blusukan. Ini soal siapa yang sedang membangun masa depan kekuasaan tanpa bergantung pada yang sekarang.

Gibran hari ini sedang main di peran yang sangat klasik dalam sejarah politik: The Silent Contender. Diam di depan. Patuh di kamera. Tapi agresif menyusun papan catur di bawah tanah.

Dan kegaduhan yang kita lihat di medsos—pendukung yang mulai saling sindir, saling panas, saling ukur pengaruh—itu bukan kebetulan. Itu percikan awal dari satu hal yang lebih besar.

Pertanyaannya tinggal satu:
Pada akhirnya, dia akan tetap jadi pewaris… atau memilih jadi penantang?

Karena dalam politik, “matahari kembar” itu nggak pernah stabil. Cepat atau lambat, salah satunya harus meredup.

(fb)

Komentar