Siapa tahu di akun Tere Liye ini ada netizen yang literasi politiknya rendaaah banget, jadi akan saya jelaskan:
1. Siapapun berhak menjadi pengamat, kritikus, nyinyirus, dll dsbgnya di Indonesia. Karena Indonesia itu negara demokrasi. Dan siapapun berhak menyatakan pendapat. Mau dia asal bicara, mau dia nggak berbobot. Boleh. Ini prinsip sekali.
2. Jika kamu netizen biasa, saat tidak suka lihat kritikan-kritikan ke pejabat, maka kamu abaikan saja. Unlike, unfollow. Biar tenang. Tapi jika kamu malah gerah, baper, kesal dgn nyinyiran pengamat, maka yang eror itu kamu. Seriusan: kamu-lah yang eror. Indonesia tuh negara demokrasi. Aduh, kocaknya ini.
3. Nah, jika kamu dalam posisi pejabatnya yang dikritik, maka jawab saja kritikan pengamat-pengamat. Tunjukkan fakta mana yang tidak benar sih? Beli 100.000 mobil dari India? Itu fakta. Beli 21.000 motor China? Itu fakta. Ekonomi B saja hanya 5%? Itu fakta. Defisit menggila? Itu fakta? Dollar 17.000? Itu fakta.
4. Ayo, coba tunjukkan, fakta mana yang tidak benar tsb, lantas kamu luruskan. Bukan malah ad hominem. Komen ngeles. Malah sibuk nuduh orang lain. Ini tuh mirip banget kayak netizen dangkal, sibuk memindahkan pembicaraan ke hal-hal tidak penting, agar substansinya dilupakan.
Semoga paham deh.
Saya tahu, rakyat Indonesia itu masih mudaah sekali tertipu pencitraan. Masih suka sekali hal receh, jejeritan tidak penting. Tapi semoga untuk hal sederhana begini kita bisa sepakat loh: Semua orang berhak jadi pengamat di negeri ini. Tukang becak, ibu RT, buruh, siapapun berhak ngomel-ngomel, nyinyirin pemerintahnya 🙂
(Tere Liye)







lama dia jd ajudan si jokibul
sekarang malah naik pangkat sama si gemoy
ACDC la yaw…Yuuuk, buna Tedy ember pintar yuuk. Ini lekong banyak jendes ma bences yang suka loh, yuuk.