Sepotong Kisah Mualem

Malam Panjang di Teumareum: Saat Mualem Mengadang Pencuri Baut Jalan USAID

Subuh belum menyingsing di Teumareum, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya.

Kabut masih menggantung di atas sungai Krueng Lambeusoe, dan jalan raya Banda Aceh–Calang terbaring lengang.

Tapi di balik sunyi itu, sekelompok pria tengah sibuk membongkar mur dan baut dari jembatan baja yang sedang dibangun dengan dana USAID.

Berat totalnya bukan main—1,5 ton logam yang seharusnya mengikat keselamatan publik.

Namun malam itu, takdir berkata lain. Rombongan Komite Peralihan Aceh (KPA) yang dipimpin Muzakir Manaf—Mualem—melintas dalam perjalanan menuju Calang.

Di tengah gelap, mereka mencium gelagat mencurigakan: sebuah pikap Suzuki Futura terparkir di jembatan, dikelilingi lima sosok yang tampak tergesa.

Salah satu mobil rombongan segera memotong laju pikap itu.

Para pelaku panik, berhamburan ke semak. Satu tertangkap: Razikin, 18 tahun, warga Lamlhom, Aceh Besar.

Razikin diserahkan ke masyarakat Teumareum, lalu ke Polsek Jaya.

Dari keterangannya, polisi menangkap satu pelaku lain, Abdul Azis (21), di Lamno. Empat lainnya masih buron. Barang bukti: pikap dan baut seberat 1,5 ton.

Di hari yang sama, di Desa Sayeung, operator alat berat menemukan escavator milik kontraktor Ssangyong telah kehilangan panel kontrol dan perangkat elektrik. Komponen vital itu raib saat mesin hendak dinyalakan. Laporan masuk ke Polsek Setia Bakti. Dua lokasi, satu pola: infrastruktur publik sebagai sasaran.

Untuk diketahui, Pemerintah Amerika Serikat meresmikan penggunaan jalan raya sepanjang 150 kilometer yang menghubungkan Banda Aceh dan Calang September 2011. Kisah ini terjadi satahun sebelumnya, 2010.

Pekerjaan jalan tersebut selesai pembangunannya selama 6 tahun oleh dukungan USAID senilai US$282 juta.

USAID, dalam rapat evaluasi triwulan dengan Pemerintah Aceh, telah lama mengeluhkan hilangnya rambu lalu lintas, pagar besi pengaman, dan komponen jembatan di sepanjang jalur Lhoknga–Calang. Kawasan Gunong Kulu, Gunong Paro, dan Gunong Geurutee menjadi titik rawan.

Besi baja dan aluminium tebal yang digunakan dalam proyek-proyek ini lebih menggoda sebagai komoditas pasar gelap ketimbang sebagai penopang keselamatan publik.

Samsul dari Dinas Bina Marga menyebut pencurian ini sebagai “kriminal berat yang membahayakan nyawa.”

Kadis Muhyan Yunan saat itu memperingatkan: jika tak ditindak, jembatan-jembatan baja yang dibangun USAID bisa ikut raib. “Kalau ini terjadi, kita akan kehilangan kepercayaan dunia,” ujarnya.

Malam itu, Mualem dan rombongannya bukan sekadar melintas. Mereka menjadi saksi dan pengadang. Di tengah gelap, ketika negara belum hadir, mereka menghentikan tangan-tangan yang hendak mencabut baut dari sejarah dan harapan.

Dan, kasus pencurian baut jembatan bukanlah kisah tunggal dan hanya ada di Aceh, di luar Aceh juga kerap terjadi. Bahkan, jembatan Suramadu juga pernah mengalaminya, Juni 2009.

Baru satu minggu diresmikan, sebanyak 46 lampu penerangan Jembatan Suramadu di bagian bentang utama atau main span telah hilang. Sebelumnya, beberapa mur pagar besi di pinggir jembatan yang berfungsi sebagai pelindung motor juga hilang.

Menurut laporan Kompas, kejadian hilangnya beberapa perangkat tersebut diperkirakan terjadi saat Jembatan Suramadu dibuka untuk umum pada Sabtu dan Minggu lalu, di mana banyak pengunjung yang berhenti di bentang tengah.

Untuk mengatasi kasus serupa, PT Jasa Marga (Persero) sebagai operator sementara Jalan Tol Jembatan Suramadu akan melakukan las listrik pada setiap baut dan mur serta memperketat patroli di titik-titik kerawanan.

(Risman Rachman)

Komentar