Senat AS: Trump Adalah Maniak, Pemicu Kekacauan di Timur Tengah

Pemimpin Demokrat di Senat Amerika Serikat, Chuck Schumer, melontarkan kritik keras terhadap Presiden AS Donald Trump. Ia menilai Trump bertindak “manik” dan melancarkan perang terhadap Iran tanpa perencanaan maupun strategi yang jelas, sehingga memicu kekacauan di kawasan Timur Tengah.

Dalam sejumlah unggahan di platform X pada Rabu, Schumer menegaskan bahwa seluruh tanggung jawab atas eskalasi konflik di kawasan tersebut berada di pundak Trump. Pernyataan itu muncul empat hari setelah Amerika Serikat bersama sekutu utamanya, Israel, memulai serangan militer terhadap Iran.

“Kesalahan atas kekacauan di Timur Tengah sepenuhnya ada pada Donald Trump,” ujar Schumer.
“Trump bertindak manik. Apa pun yang terlintas di kepalanya langsung dia katakan. Hari ini dia memilih satu rencana, besok justru memilih kebalikannya. Dia tidak memikirkan matang-matang, tidak memeriksa fakta, dan tidak ada orang di sekelilingnya yang berani mengatakan: Tuan Presiden, Anda salah.”

Di tengah meningkatnya konflik, pasukan laut dan dirgantara dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) bersama militer Iran melancarkan serangan rudal besar-besaran terhadap aset militer Amerika Serikat di sejumlah negara kawasan serta target di wilayah yang diduduki Israel sejak akhir pekan lalu.

Serangan balasan Iran tersebut memaksa Washington menutup sejumlah kedutaan besarnya di kawasan dan mendesak warga Amerika untuk segera meninggalkan wilayah Timur Tengah.

Schumer juga menyoroti nasib ratusan warga Amerika yang kini terjebak di kawasan konflik. Menurutnya, pemerintah AS terlambat merespons situasi darurat tersebut.

“Lebih banyak kekacauan dan ketidakmampuan dari Trump. Ratusan warga Amerika, termasuk banyak warga New York, terdampar di seluruh Timur Tengah. Pesan dari Departemen Luar Negeri pada dasarnya hanya: ‘semoga beruntung’,” kata Schumer.

Ia menambahkan, peringatan evakuasi baru dikeluarkan tiga hari setelah perang dimulai—saat ruang udara sudah ditutup dan tidak ada penerbangan evakuasi dari pemerintah AS.

“Ini yang terjadi ketika Departemen Luar Negeri dipangkas secara sembrono dan negara justru didorong masuk ke perang tanpa rencana. Nol perencanaan, nol strategi, dan sekarang warga Amerika yang harus menanggung akibatnya,” tegasnya.

Kritik Schumer muncul setelah upaya Senat untuk meloloskan resolusi yang mewajibkan Trump meminta persetujuan Kongres sebelum mengambil tindakan militer lanjutan terhadap Iran gagal dilanjutkan.

Sementara itu, Pemimpin Minoritas DPR AS, Hakeem Jeffries, juga menuduh Trump telah berbohong kepada publik mengenai program nuklir Iran. Pernyataan itu ia sampaikan setelah menghadiri pengarahan tertutup bersama Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.

Jeffries menyinggung klaim Trump sebelumnya yang menyatakan bahwa serangan AS pada perang 12 hari tahun lalu telah “sepenuhnya menghancurkan” kemampuan nuklir Iran.

“Jelas dia berbohong kepada rakyat Amerika—atau dia berbohong sekarang,” kata Jeffries.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan pihak luar menentukan akhir konflik.

“Pemboman di ibu kota kami tidak akan mempengaruhi kemampuan kami untuk berperang. Iran yang akan menentukan kapan dan bagaimana perang ini berakhir,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *