Sejak 1980 Iran Sudah Anti Barat, Jadi Sebab Perang dengan Irak 8 Tahun Lamanya

Bayangkan sebuah negeri yang baru saja bergolak revolusi. Tahun 1979, rakyat Iran menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi, raja yang selama puluhan tahun menjadi sekutu setia Amerika Serikat. Shah dibuang, digantikan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, seorang ulama Syiah yang membawa semangat anti-Barat membara. “Amerika adalah Setan Besar,” kata Khomeini berulang kali dari panggung revolusi. Kata-kata itu bukan sekadar retorika; itu menjadi doktrin negara baru.

Revolusi Islam Iran bukan hanya mengubah pemerintahan dalam negeri. Ia mengguncang seluruh Timur Tengah. Iran mulai menyerukan ekspor revolusi dengan mendukung kelompok Syiah di Irak, Lebanon, bahkan hingga Yaman. Bagi Saddam Hussein, presiden Irak yang baru naik tahta secara brutal, ini adalah ancaman nyata. Mayoritas penduduk Irak adalah Syiah, dan Khomeini secara terbuka menyerukan agar mereka memberontak melawan “penguasa Sunni yang zalim”. Saddam merasa posisinya goyah. Ia takut Iran akan memanfaatkan kekacauan internal pasca-revolusi untuk menyerang atau mengobarkan pemberontakan di dalam negeri.

Saddam juga punya ambisi lain, yaitu menguasai Shatt al-Arab, jalur sungai strategis yang menjadi pintu masuk minyak Irak ke Teluk Persia. Sejak 1975, Perjanjian Algiers membagi wilayah itu dengan Iran, tetapi Saddam ingin mengambil semuanya. Ia melihat Iran sedang lemah. Militer Iran dibersihkan habis-habisan setelah revolusi, banyak jenderal dieksekusi atau dipecat, dan negara itu diisolasi secara internasional karena penyanderaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran.

Maka, pada 22 September 1980, pasukan Irak meluncurkan invasi besar-besaran ke wilayah barat Iran. Serangan udara menghantam bandara-bandara, tank melintasi perbatasan, dan pasukan darat menyerbu provinsi Khuzestan yang kaya minyak. Saddam yakin perang akan selesai dalam hitungan minggu. Ia salah besar.

Iran, meski terluka parah, bangkit dengan semangat jihad dan pertahanan suci. Ribuan pemuda berbaris sukarela, menyebut diri mereka pasukan Basij. Mereka bertempur dengan taktik gelombang manusia, yaitu serangan frontal tanpa mundur, melawan pasukan Irak yang lebih modern. Perang berubah menjadi pertempuran parit berdarah, mirip Perang Dunia Pertama, tetapi dengan tambahan gas mustard dan senjata kimia dari Irak.

Delapan tahun lamanya kedua negara saling menghancurkan. Iran akhirnya merebut kembali hampir seluruh wilayahnya pada 1982, tetapi Saddam bertahan berkat dukungan besar dari Barat dan negara-negara Arab. Amerika Serikat memberikan intelijen satelit, Prancis menjual jet Mirage, Uni Soviet memasok tank dan rudal, sementara Arab Saudi dan Kuwait meminjamkan miliaran dolar. Ironisnya, Amerika Serikat yang membenci Khomeini justru memilih mendukung Saddam agar Iran tidak menang.

Pada 1988, kedua pihak kelelahan. Iran menerima Resolusi 598 Dewan Keamanan PBB, gencatan senjata ditandatangani, dan perbatasan kembali seperti semula. Tidak ada pemenang. Hanya jutaan korban jiwa, ekonomi hancur, dan luka mendalam yang masih terasa hingga hari ini.

Perang itu bukan sekadar konflik perbatasan. Ia lahir dari ketakutan Saddam terhadap revolusi Iran yang anti-Barat, serta ambisi Iran untuk menyebarkan ideologi revolusionernya. Sejak 1980, Iran sudah memilih jalan berseberangan dengan Barat, dan jalan itu membawa mereka ke salah satu perang paling berdarah di abad ke-20.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *