Seekor monyet membuatmu terharu. Tapi ribuan anak Gaza yang dibantai tidak

Seekor monyet membuatmu terharu.
Tapi seorang anak yang dibantai tidak—
Karena media tidak memberitahumu untuk merasa.

Seluruh dunia menangis hari ini.
Air mata di mana-mana.
Hati yang hancur.
Karena seekor monyet kehilangan ibunya dan diganti dengan boneka.
Bayi monyet bernama Punch di kebun binatang di Jepang itu ditinggal induknya setelah dilahirkan. Dia membawa boneka orangutan ke mana pun dia pergi, sebagai pengganti sosok ibunya.

Selebriti membagikannya.
Media mempromosikannya.
Orang-orang menulis esai tentang kemanusiaan.

Tapi katakan padaku—
Di mana air mata ini ketika anak-anak Gaza kehilangan orang tua mereka?
Di mana kesedihan ini ketika tubuh-tubuh kecil ditarik dari reruntuhan?

Ketika seorang anak memeluk tubuh ibu yang sudah meninggal—bukan mainan?
Tiba-tiba dunia menjadi sunyi.

Tidak ada hashtag.
Tidak ada filter foto profil.
Tidak ada empati yang viral.

Ini adalah hipokrisia.
Ini adalah empati yang selektif.

Empati yang hanya bangun saat nyaman.
Saat tidak mempertanyakan kekuasaan.
Saat tidak mengungkap kejahatan.
Saat tidak menghabiskan apa pun.

Ingatlah ini:

Empati yang memilih pihak bukanlah kemanusiaan.
Itu adalah kondisioning.
Dan sejarah akan mengingat siapa yang menangis untuk mainan
dan siapa yang mengabaikan anak-anak yang terkubur di bawah bom.

(KHANSPEAKS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar