✍🏻Ustadz Zulfi Akmal (Alumni Al-Azhar)
Sebelumnya tidak ada keinginan untuk berkomentar tentang apa yang terjadi antara amerika israel vs Iran. Tapi banyak sekali pertanyaan supaya memberikan pendapat dan pandangan dari kawan-kawan. Supaya hilang keragu-raguan dalam hati mereka.
Langsung saja…
Anggap saja Iran itu musyrik 100% / 24 karat. Musuh kita juga. Tapi tindakan mereka sekarang ini jelas-jelas merugikan musuh kita bersama. Yaitu israel yang telah membantai ratusan ribu saudara kita di Gaza. Dengan berperangnya mereka berdua setidaknya mengurangi penderitaan penduduk Gaza. Sehingga mereka dapat melepaskan sesak napas dan kelelahan sejenak.
Sekiranya hanya itu yang terjadi sudah sepantasnya kita mendukung Iran untuk memerangi israel. Apalagi bila yang terjadi lebih dari itu.
Dengan terjadinya perperangan, sebenarnya tidak ada yang beruntung di antara dua pihak. Satu jadi arang dan satunya lagi jadi abu. Sama-sama rusak, bahkan sama-sama hancur.
Kalau memang kita menganggap Iran itu musuh, sama dengan israel, alangkah indahnya hal yang terjadi. Musuh saling baku hantam, kalau tidak sama-sama hancur, sekurangnya sama-sama lemah.
Kita kan berdo’a: Ya Allah, hancurkan orang zalim dengan orang zalim lainnya, dan keluarkan kami dari kezaliman keduanya dengan selamat.
Selanjutnya, sampai hari ini yang mampu memerangi musuh kita hanyalah musuh kita yang satunya lagi. Sementara teman-teman kita malah bermain mata dengan salah satu musuh kita. Apa tidak pantas kita memberikan sokongan kepada musuh kita yang satunya lagi itu untuk terus menggempur musuh bebuyutan kita yang sudah banyak membinasakan saudara kita? Di sini butuh akal sehat untuk berpikir.
Lanjut….
Ada yang berkata dengan bijaknya: Situasi bagaimanapun aqidah lebih diutamakan. Iran lagi mengambil simpati umat untuk mengambil hatinya dengan pura-pura berperang dengan israel.
Kawan, bukalah telinga dan mata lebar-lebar, renungkan dengan tenang, berpikirlah dengan jernih!
Pertama, haruskah kita pergi dulu ke israel untuk membuktikan apakah benar rudal Iran sampai ke sana atau tidak? Tidak bisakah kita percaya dengan begitu banyaknya berita dan bukti video. Kalau belum juga percaya, nanti aku kasih kau nomor WA muridku yang lagi berada di Yarmuk Yordania, dekat sekali dengan israel. Silahkan kau video call dengan dia, saksikan langsung rudal Iran bersileweran di langit menghantam israel.
Kedua, perkataanmu perlu menjaga aqidah umat itu benar. Tapi melihat situasi kapan harus bicara, itu penting. Nabi Harun menahan diri untuk tidak bersikeras melarang Bani Israel menyembah patung anak sapi yang dibuatkan samiri sampai Nabi Musa pulang dari Bukit Tursina selama 40 hari demi menjaga keutuhan umat agar tidak berpecah. Yang dihadapi Nabi Harun jelas-jelas kesyirikan. Sedangkan ini baru sebatas kagum. Kalau begitu kagum kepada pemain bola bisa merusak aqidah juga.
Sekarang apakah orang yang simpati kepada Iran akan jadi Syi’ah? Mereka hanya memberi apresiasi ketika saudaranya yang diharapkan untuk menghadang musuh malah bermesraan dengan musuh. Boleh jadi setelah bertempur dengan israel kita akan berhadapan pula dengan Iran Syi’ah itu.
Ketiga, justru aku curiga dengan kalian yang membenci Syi’ah, jangan-jangan sudah menjadi Zionis dan pendukung misi yahudi israel. Kalau yahudi tahu sikapmu, pasti kau dikasih hadiah dan fasilitas untuk terus menggonggong seperti abu sundal. Sadar atau tidak sadar tindakanmu heboh pada waktu yang harusnya diam ini menunjukkan syahwatmu yang kebelet membela musuh. Makanya, waktu baca al Fatihah ayat terakhir itu jangan sambil ngaur. Bacalah baik-baik, dan renungkan maksudnya.
“Bukan jalan orang-orang yang sesat”. Orang sesat itu merasa sangat benar. Padahal dia sudah melenceng entah ke mana.
Sadarlah, sebelum terlambat!
Itu sajalah dulu. Naik pula emosi nanti, rusak pula puasaku.
(fb)







Apresiasi dikit Iran dong negara satu2 nya di timteng yg bikin si Setan yahu ngumpet dibunker nya
negara arab lain malah berkawan sm isra hell
tapinada juga sih yg berlebihan..berusaha membenarkan ajaran Syiah(biasanya sambil ngolok2 Wahabi). kita mendukung Iran saat melawan Israel , tapi bukan berarti meyakini aqidahnya tidak menyimpang. Kalo aqidah hanya d dasarkan geopolitik, ntar kalo perangnya berhenti aqidah menyimpang lagi dong😄