Sebelum ada MBG

Ini bukan dongeng fiktif
Bukan wacana di ruang rapat
Ini pengalaman nyata Bu Sri Lestari, sudah berjalan lebih dari 10 tahun.

Sebuah SD negeri di Lumajang pernah punya program makan siang sehat:
🍚 dikelola kantin sekolah
πŸ₯¬ menu lokal: sayur kelor, sop, pecel
🐟 ada prohe, pro-na
πŸ’° Rp6.000 per porsi
πŸ“š bagian dari proses belajar
πŸ‘§πŸ‘¦ anak boleh memilih
🌱 sehat, diterima anak, berkelanjutan

Dan yang paling penting: dimakan.

Program itu berhenti…
bukan karena gagal,
tapi karena digantikan MBG.

Ironisnya, setelah MBG berjalan:
anak beliau justru tidak cocok,
makanan sering tidak dimakan,
berat badan turun,
anak jadi lebih kurus.

Niat Presiden untuk menyehatkan anak bangsa saya hormati.
Tapi niat baik bisa salah jalan jika menutup mata pada praktik baik yang sudah ada.

Padahal contohnya sudah di depan mata.
Tinggal diadopsi,
diperbaiki yang kurang,
diperkuat yang sudah terbukti.

Kantin sekolah.
Bahan lokal.
Warga sekitar.
Distribusi pendek.
Biaya murah.
Anak makan dengan senang.

Kadang solusi terbaik tidak perlu dibuat dari nol.
Cukup mau mendengar suara paling jujur:
orang tua dan anak-anak.

Ini suara nyata kondisi di lapangan.
Semoga didengar.

Komentar