“Saya pelan-pelan bangkit sendiri, tanpa bantuan dari pemerintah” Aceh😭

Tiga bulan setelah banjir bandang menerjang Aceh pada akhir November 2025, warga di sejumlah wilayah masih berkutat dengan lumpur dan puing. Di Meureudu, ibu kota Kabupaten Pidie Jaya, endapan lumpur setinggi pinggang orang dewasa masih menutup rumah-rumah. Menjelang Ramadan, suasana yang biasanya riuh justru berubah muram.

Arini Amalia, 28 tahun, mengatakan tradisi meugang tahun ini terasa hambar. Biasanya, sepekan sebelum puasa, pasar dipadati warga yang membeli daging untuk dimasak dan disantap bersama keluarga. Kini, suasana jauh lebih sepi. “Dulu bisa beli dua kilogram daging, sekarang satu kilogram saja susah,” ujarnya.

Rumah Arini masih tertimbun lumpur yang mengeras. Ia dan neneknya yang berusia lebih dari 80 tahun terpaksa tinggal di tenda darurat di depan rumah. Untuk membersihkan lumpur, dibutuhkan alat berat yang ongkos sewanya jutaan rupiah per hari biaya yang tak sanggup mereka tanggung. Sementara itu, alat berat yang ada lebih difokuskan untuk membersihkan jalan utama dan fasilitas publik.

Masalah lain adalah air bersih. Layanan PDAM belum pulih, sumur bor keruh, dan warga harus mengambil air dari mobil tangki yang jaraknya sekitar dua kilometer. Banyak yang akhirnya menampung air hujan untuk memasak, meski rasa waswas akan banjir susulan tetap menghantui.

Di Kabupaten Aceh Tamiang, kondisi tak jauh berbeda. Desrina Akmalia menyebut kotanya seperti habis dibom: debu dari lumpur kering beterbangan saat cuaca panas. Ia dan anak-anaknya harus memakai masker berlapis setiap kali keluar rumah. Rumahnya rusak parah, namun bantuan perbaikan yang dijanjikan belum juga cair.

Rizqi Shafriyaldi, warga Aceh Tamiang lainnya, mengaku rumahnya hancur dan usahanya ikut terdampak. Ia belum menerima bantuan meski pendataan sudah dilakukan. “Saya pelan-pelan bangkit sendiri. Kalau menunggu bantuan, takutnya enggak selesai-selesai,” katanya.

Di sisi lain, pemerintah pusat menyatakan pemulihan berjalan cepat. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut ribuan rumah telah dibangun kembali, jembatan dan jalan nasional diperbaiki, serta fasilitas kesehatan dan sekolah kembali beroperasi. Presiden Prabowo Subianto, kata dia, terus memantau proses rehabilitasi.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga menyampaikan bahwa dana Rp4,7 triliun telah dicairkan untuk korban di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Bantuan itu ditujukan bagi warga yang rumahnya rusak serta pengungsi yang telah terverifikasi.

Namun bagi sebagian warga di Aceh, realitas di lapangan belum sepenuhnya mencerminkan klaim tersebut. Lumpur masih menggunung di halaman rumah, bantuan dinanti, dan Ramadan datang dalam suasana penuh keterbatasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *