Di tengah eskalasi perang besar di Timur Tengah pada Maret 2026 ini, Iran sedang menghadapi agresi militer dari Amerika Serikat dan Israel dengan penuh keteguhan. Kekuatan poros perlawanan, termasuk IRGC, Hezbollah, dan Ansarullah, sedang menanggung beban perjuangan melawan penjajahan Zionis yang terus melakukan genosida di Gaza dan Lebanon. Namun, respons dari Arab Saudi sebagai negara yang sering disebut “pusat umat Islam” justru menimbulkan kekecewaan mendalam.
Fakta menunjukkan bahwa serangan balasan Iran berupa drone dan rudal telah mengenai fasilitas minyak utama Saudi, seperti refinery Aramco di Ras Tanura (2 Maret), SAMREF di Yanbu, serta area dekat Riyadh. Kebakaran terjadi, operasi terhenti sementara, dan harga minyak global melonjak. Saudi langsung menyatakan hak untuk membalas secara militer. Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan menegaskan bahwa kepercayaan terhadap Iran telah “hancur”, kesabaran terbatas, dan negara-negara Teluk memiliki “kapasitas signifikan” untuk merespons. Mereka bahkan menyelenggarakan pertemuan Arab-Islam di Riyadh untuk mengutuk Iran serta mengancam tindakan lanjutan jika serangan berlanjut.
Kontrasnya sangat mencolok. Saat Israel membom Masjid Al-Aqsa, menghancurkan Gaza, dan menginvasi Lebanon, respons Saudi lebih bersifat retoris, mengecam, memberikan bantuan rekonstruksi, serta mendukung solusi dua negara dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina. Tidak ada keterlibatan langsung di garis depan bersama Hamas atau Hezbollah. Secara historis, Saudi bahkan pernah melobi AS untuk menekan Iran, menganggap Teheran sebagai ancaman eksistensial yang lebih besar daripada Israel.
Alasannya tampak jelas: prioritas utama adalah melindungi aset ekonomi. Minyak Saudi yang diekspor terutama ke China, Korea Selatan, dan Jepang merupakan tulang punggung Vision 2030 serta stabilitas monarki. Gangguan di Teluk dapat mengancam pendapatan, investasi asing, dan bahkan rezim itu sendiri. Aliansi dengan AS untuk senjata dan perlindungan pun lebih diutamakan daripada solidaritas umat dalam melawan penjajah Zionis.
Sebagai umat Islam, sikap ini sungguh memalukan. Negara penjaga dua masjid suci seharusnya memimpin persatuan, bukan memilih mode bertahan demi minyak dan kekuasaan. Sementara itu, Iran tetap tangguh meski terkepung, dan poros perlawanan terus membawa amanah perjuangan umat. Semoga kesadaran muncul: musuh sejati bukan perbedaan mazhab, melainkan pihak yang menzalimi Palestina dan umat secara keseluruhan.







seperti yang di info oleh cak nun
apakah saudara kita yg membunuhi sunni di yaman dan suriah? siapa saudara kita?