Salah satu ormas Islam yang sangat mempengaruhi perjalanan keagamaan saya adalah Hidayatullah

✍🏻Widi Astuti

Salah satu ormas Islam yang sangat mempengaruhi perjalanan keagamaan saya adalah Hidayatullah. Dulu sewaktu SMA, saya sering menginap di pesantren Hidayatullah Sorong Papua Barat. Saya menginap di pesantren saat liburan sekolah.

Dan disanalah saya faham makna tawakal yang sebenarnya. Saya terkadang melihat ustadz kehabisan beras untuk para santri. Terkadang pula tak tau harus masak apa. Tapi tiba-tiba saja ada donatur yang datang mengirimkan beras.

Disana pula saya faham bahwa sumber kekuatan ruhani adalah dengan menjaga kedekatan dengan Alloh. Para santri dibangunkan untuk sholat tahajud jam 3 pagi. Dilanjut dengan sholat subuh. Kemudian dzikir pagi seusai sholat subuh.

Saya faham sekali culture para da’i Hidayatullah luar Jawa yang tingkat tawakalnya benar-benar amazing. Benar-benar sami’na wa atho’na terhadap pimpinan.

Biasanya mereka dipindahtugaskan ke berbagai pulau. Keliling Indonesia hanya dengan bekal seadanya tanpa tau harus menetap dimana.

Secara logika manusia, rasanya impossible banget mendatangi tempat tugas baru tanpa tau harus menetap dimana. Benar-benar dari nol. Tapi nyatanya mereka berhasil membuka ladang dakwah baru. Sebuah bukti nyata bahwa pertolongan langit benar adanya.

Ciri khas da’i Hidayatullah adalah tidak pernah meninggalkan sholat tahajjud. Menghabiskan sepertiga malam terakhir untuk bermunajat. Meluapkan segala rasa dan segala kesulitan duniawi. Dan memohon pertolongan jalan keluar atas semua permasalahan yang menerpa di jalan dakwah.

Sungguh pemandangan yang membuat saya yang saat itu masih remaja benar-benar meleleh. Hati saya tersentuh oleh akhlaq para da’i Hidayatullah.

Saya sangat bersyukur saat itu dipertemukan dengan para da’i Hidayatullah yang tulus ikhlas berdakwah di belantara Papua. Mereka sangat berjasa membersamai masa remaja saya. Entah apa jadinya jika saya tak bertemu orang-orang baik yang tulus ikhlas menyeru agama Alloh.

Ketika malam ini saya berjumpa dengan para da’i Hidayatullah Jawa Tengah, maka kenangan indah semasa SMA memenuhi benak saya, serasa dejavu. Sebuah kenangan yang membuat haru biru. Wajah-wajah teduh khas wajah yang tersungkur bersujud di seperti malam terlihat jelas. Wajah teduh yang membuat hati terasa tenang.

Sungguh besar jasa asatidz Hidayatullah Sorong-Papua Barat bagi diri saya. Merekalah yang mengajari saya makna tawakal setelah berikhtiar. Mereka pula yang mengajari cara membuka pintu langit yaitu dengan memohon tersungkur bersujud di malam gelap.

On pic : Muslimah Hidayatullah sedang mengadakan acara di Salatiga.

(fb penulis)

Komentar