RISMON BUKAN PENGKHIANAT, TETAPI PEMBAJAK

RISMON BUKAN PENGKHIANAT, TETAPI PEMBAJAK

Oleh: Buyung Kamba Tanjung

Rismon bukan pengkhianat. Salah besar bila Rismon disebut pengkhianat. Yang pengkhianat itu bila dilihat dari misi awalnya adalah Egi Sujana. Justru Rismon baru tepat dicap sebagai pengkhianat bila dia tidak mencegah kasus dugaan ijazah palsu itu masuk ke ranah persidangan.

Persisnya Rismon adalah seorang “pembajak”. Menurut dugaan saya dia ditugasi “dongan sahutanya”, seorang jenderal purnawirawan yang nota bene konco dekat Jokowi membajak gugatan ijazah palsu yang dimotori Suryo cs agar tidak sampai menghadirkan Jokowi sebagai pesakitan di persidangan. Memastikan kasus tersebut tidak lanjut ke persidangan.

Soalnya bila kasus dimaksud lanjut ke persidangan dipastikan tidak akan berhentinya hanya sampai pada Jokowi saja. Dipastikan akan melibatkan banyak orang-orang di sekeliling Jokowi. Dan itu berpotensi mengganggu agenda politik fufufafa 2029.

Dari sejak awal Rismon melibatkan diri dalam kasus ini, saya sudah meragukan niat baik beliau. Keraguan itu sudah saya tulis dan muat di halaman akun FB saya 5 April 2025 dan 17 Agustus 2025, masing-masing berjudul “Fenomena Rismon Sianipar” dan “Hati Nurani Rismon”. Berikut ini arsip tulisan tersebut:

Dalam tulisan ini saya mengungkapkan ketakjuban tapi juga keraguan saya pada heroisme Rismon didasarkan pada pengalaman Bambang Tri dan Gus Nur.

Sepertin diketahui kedua tokoh itu berakhir di penjara. Hakim memvonis mereka tanpa sama sekali pernah menghadirkan Jokowi di persidangan dan menunjukkan ijazah yang dipersengketakan.

Pokoknya, siapapun yang berani membongkar kasus dugaan ijazah palsu Jokowi bila hanya bermodalkan tekad dan iktikad — dipastikan akan bernasib sama dengan kedua orang tersebut.

Anehnya itu tidak berlaku pada Rismon. Seakan orang ini kebal hukum. Padahal aparat sebenarnya punya banyak alasan dan bukti menangkap Rismon. Tidak karena dia ikut dalam barisan penggugat ijazah Jokowi. Penangkapan atas dirinya bisa dilakukan aparat berdasarkan ucapan-ucapannya rada kasar dan menantang Kapolri menangkapnya atas tuduhan serta pernyataan yang merendahkan Kapolri Sigit Listyo, mantan Kapolri Tito Karnavian dan sejumlah petinggi Polri yang dia tuding terlibat dalam rekayasa kasus racun sianida yang menyebabkan Jessica divonis 20 tahun penjara.

Bukan hanya itu, Rismon juga menyerang LBP. Dan hebatnya, tak seorang pun dari orang yang ditantangnya itu berani menghadapinya. Luar biasa!

Padahal setahu saya, Luhut Binsar Panjaitan itu tipe reaktif dan temperamental. Selama ini dia tidak pernah membiarkan dirinya dikritik apalagi dituding dan dilecehkan.

Oleh karena itu adalah mengherankan bila kali ini dia diam saja. Bagi saya diamnya aparat hukum justru membersitkan kecurigaan. Who is Rismon, really? siapa sebenarnya Rismon.

Dalam tulisan kedua ini fokus saya “mengherani” sikap kritis Rismon sebagai sebuah kontroversial dalam hubungannya dengan kultur dan agama Rismon terkait relasi politik antara LBP dan Jokowi. Pilihannya bergabung dengan Roy Suryo cs telah “mencederai” hipotesa yang selama ini saya bangun. Soalnya Rismon seorang Kristen dan bersuku Batak.

Selama ini saya menyimpan asumsi bahwa disamping minoritas WNI turunan Cina — semua etnis Batak beragama Kristen sepenuhnya bersatu memilih dan mendukung Jokowi. Hal itu bisa dilihat dari hasil rekapitulasi perolehan suara Jokowi-Ma’ruf Amin pada pilpres 2019 di daerah pemilihan Tapanuli yang berpenduduk mayoritas Kristen.

Hasil rekapitulasi itu menggambarkan komunitas Kristen Batak bulat memilih Jokowi. Samosir 98,07%, Humbang Hasundutan 95,45%, Toba Samosir 95,79% Tapanuli Utara 94,08%. Diluar Tapanuli Karo dan P. Siantar yang juga berpenduduk mayoritas kristen Jokowi-Maruf memperoleh suara 92,08% dan 73,85%. Hasil pilpres periode kedua itu tidak jauh beda dengan hasil pilpres 2014.

Banyak pihak menyakini relasi dukungan etnis Batak Kristen tersebut terhadap Jokowi bukan karena kapasitas Jokowi. Pilihan orang-orang Batak Kristen pada Jokowi terhubung dengan figur LBP.

Sebagaimana diketahui, yang mengendors Jokowi jadi capres adalah LBP. LBP adalah tokoh sentral yang mengorkestrasi bersatunya lintas minoritas memilih Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019.

Asumsinya terbukti, pasca pilpres, LBP menerima berbagai “keistimewaan” dari Jokowi sebagai imbalan poltik.

Jokowi melimpahinya kewenangan melebihi porsi seorang menteri. Berbagai jabatan “diembatnya”. Tak heran bila atas “berbagai keistimewaan” itu publik mengatai LBP sebagai menteri segala urusan (mensaurus). Bahkan ada yang memposisikannya sebagai The Real President. LBP lah presiden sesungguhnya. Jokowi cuma bonekanya?

Berangkat dari asumsi di atas bagi saya, seorang Batak dan Kristen memposisikan diri sebagai antagonis Jokowi adalah sebuah kemustahilan. Itu berlawanan dengan mainstream politik yang dianut komunitas kristen Batak yang dikomandoi LBP.

Asumsi inilah yang menguatkan dugaan saya bahwa Rismon bukan pengkhianat. Tapi “pembajak !”

(Sumber: fb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar