Pertemuan antara BPBD Sumatera Utara, PT Pelni Cabang Medan, Yayasan Mapel Indonesia, serta Gimbal Alas Indonesia yang digelar di Gedung Serbaguna Jalan Williem Iskandar, Senin (29/12), berlangsung panas. Agenda rapat tersebut membahas tertahannya bantuan kemanusiaan untuk korban bencana di Sumatera, khususnya Aceh Tamiang, yang dikirim dari Jawa Timur.
Situasi memanas setelah Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemprov Sumut, Basarin Yunus Tanjung, melontarkan pernyataan yang dinilai bernada menantang para relawan untuk membawa persoalan tersebut ke jalur hukum. Dalam forum itu, Basarin menolak disalahkan atas pemindahan barang bantuan milik relawan Gimbal Alas Indonesia dari Depo PT Prima Indonesia Logistik Belawan ke gudang BPBD Sumut.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Ketua Umum Yayasan Mapel Indonesia, M Yusuf Hanafi Sinaga, yang sejak awal mendampingi pihak Gimbal Alas Indonesia. Emosi Yusuf memuncak dan ia menilai ucapan Basarin keluar dari konteks pertemuan. “Bapak nantang! Bapak nantang!” serunya dengan nada tinggi.
Ketegangan semakin meningkat ketika Sekretaris Umum Yayasan Mapel Indonesia, Nanang Ardiansyah Lubis, turut meluapkan kekecewaannya. Ia mengaku telah menyiapkan dana sebesar Rp2,4 juta sebagai tebusan untuk dua kontainer bantuan masyarakat Jawa Timur yang tertahan. Nanang menegaskan, jika persoalan ini berlanjut ke proses hukum, pihak yang akan berhadapan di meja hijau adalah pejabat yang bersangkutan.







Komentar