REZIM BOROS DAN PEMBOHONG

REZIM BOROS DAN PEMBOHONG

✍🏻Made Supriatma

Saya baru saja menonton sebuah dokumenter tentang mengapa Jepang kalah dari China dalam membangun KA Cepat. Dokumenter ini luar biasa. Sayangnya dalam bahasa Inggris.

JADI BEGINI…..

Jepang menawarkan pembanguna KA cepat dengan skema pembayaran panjang, 40 tahun. Total beaya pembangunan diperkirakan antar US$5,3 hingga US$5,5 milyar. Namun bunganya sangat rendah yaitu 0.14% per tahun. Waktu pengerjaan 8 tahun. Namun ada satu syarat: kalau perusahan KA cepat ini gagal dalam operasinya, hutang itu harus dicicil oleh Indonesia lewat APBN.

Jokowi dan menterinya Luhut Panjaitan ketika itu menolak skema ini. Alasannya adalah proyek ini tidak boleh membebani APBN.

Lalu datanglah China. Mereka menawarkan skema BtoB alias antar bisnis. Pengerjaan lebih singkat yakni 5 tahun. Beaya antara US$5 milhar hingga US$5,5 milyar. Proyek dibeayai China Development Bank. dengan bunga lebih besar 2% per tahun selama 40 tahun. Karena skema BtoB maka tidak ada pembeayaan dari APBN.

Akhirnya, proyek ini selesai dengan beaya US$7,2 milyar. KA Cepat Jakarta-Bandung berangkat dari Halim dan berakhir di Tegalluar. Ini tidak di pusat kota. Dan KA ini bersaing dengan KA Parahiyangan yang beayanya jauh lebih murah tapi bisa PP dari stasiun pusat kota Jakarta dan Bandung.

Tentu saja, seperti yang kita tahu, KCIC (Kereta Cepat Indonesia China) ini terus merugi. Kita selalu dengan jutaan penumpang memakai kereta ini. Namun pemasukan dari tiket jelas tidak cukup.

Karena pembengkakan beaya sebesar US$ 1,2 milyar, maka bunganya pinjaman juga membengkak. Kini bunganya sebesar 3,5% per tahun.

Akibatnya, KCIC menanggung hutang besar. Karena PT Kereta Api Indonesia (KAI) memiliki 60% saham di KCIC, perusahan negara ini harus menanggung utang yang membengkak setiap harinya. Proyek mercusuar kebanggaan rejim Jokowi ini akhirnya memakan semua keuntungan PT KAI.

Karena PT KAI tidak mampu membayarnya maka pemerintah, yang sekarang dipegang oleh Prabowo Subianto, membuat keputusan bahwa utang Whoosh itu ditanggung pemerintah lewat APBN.

Proyek ‘glowing’ Jokowi

Sodara, proyek Whoosh itu dan proyek-proyek lain dibawah Jokowi memang terlihat berkilau (glowing) pada awal. Rejim Jokowi memproyeksikan kebangkitan Indonesia — sejajar dengan negara-negara maju. Ini sebenarnya baik-baik saja. Namun, banyak hal tidak dihitung dengan cermat dan bahkan sarat kepentingan. Entah kepentingan politik atau kepentingan pribadi.

Whossh itu proyek mangkrak. Negara harus mencicil Rp 1,2 triliun per tahun untuk membayar hutang ini. IKN juga proyek ambisiu yang nyaris mangkrak. Dengan dana hanya Rp 7 trilyun per tahun, tidak akan ada yang bisa dibangun disana. Yang ada hanya pemeliharaan.

Lalu bagaimana dengan bandara-bandara yang dibangun di Kertajati? Bahkan entah mengapa Jokowi membangun bandara di Bojonegoro. Airport to nowhere … atau bandara yang tidak punya tujuan itu bertebaran dimana-mana.

Pemborosan uang negara yang tidak perlu itu ternyata tidak terjadi sekarang saja. Itu sudah menjadi kebiasaan. Walau pun sekarang sudah terlihat sangat parah.

Pemborosan dilanjutkan rezim Prabowo

Saya berani mengatakan bahwa proyek MBG itu kemungkinan besar akan gagal. Ini proyek yang sulit sekali keberlangsungannya. Yang lebih besar lagi kemungkinannya untuk gagal adalah Koperasi Desa Merah Putih. Anda boleh catat ini: bahkan ketika Prabowo menyelesaikan masa jabatannya sebagian besar dari Koperasi ini akan tutup!

Tata kelolanya amburadul. Tidak jelas siapa yang bertanggungjawab. Tidak ada pengawasan. Tidak ada akuntabilitas. Hanya saja, kenyataan yang menyedihkan: kalau ratusan triliun uang negara ini mangkrak dan terbuang percuma, tidak ada yang masuk penjara karena itu.

Semakin saya menelaah ini semua, semakin saya menjadi sedih. Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini semua sejak awal tahun lalu. Mengamati perkembangan proyek-proyek mercusuar rejim ini. Seraya mengingatkan bahwa ini bahaya, itu tidak feasible, itu tidak layak. Namun jarang yang mendengarkan.

Tambahan pula, kita akan punya 1 juta tentara. Untuk mengamankan apa? Katanya tentara-tentara ini akan bertani dan memproduksi pangan. Akan ada 500 lebih Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP) yang akan bertani.

Kalau memang benar-benar tentara yang memproduksi produk pertanian, mari kita juga berhitung beaya ekonominya. Anda tahu berapa beaya untuk menggaji satu batalyon BTP per bulannya? Rp 1,9 milyar per bulan! Itu baru satu batalyon. Kalikan itu dengan 500 batalyon. Apakah batalyon ini akan bisa menghasilkan produksi pertanian, peternakan, perikanan dan kesehatan sebanyak itu?

Juga soal Koperasi Desa Merah Putih. Cicilannya adalah 600 juta per tahun. Itu artinya, KDMP ini harus menghasilkan Rp 50 juta per bulan kan? Itu hanya untuk bisa mencicil utang pendiriannya. Karena 600 juta itu adalah adalah pemotongan dana desa. KDMP ini pasti tidak akan mampu mencapai jumlah itu. Marjin keuntungan untuk minimarket Indomaryono dan Alfamaryono kabarnya tidak lebih dari 10 juta per bulan. Bisa 20 juta dengan usaha luar biasa!

Sekarang saya paham mengapa orang-orang banyak yang bilang IQ rata-rata bangsa ini cuma 78. Awalnya saya marah karena itusangat menghina. Namun menelan kenyataan ini, kok saya jadi yakin memang sekian lah rata-rata IQ kita. Terutama IQ para elit pembuat kebijakan. Atau, ada alternatif penjelasan kedua: mereka berbohong kepada rakyatnya!

Link video dari Behind Asia: “How Japan Lost Indonesia to China (And Why They Are Glad They Did):

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar