REMUK MotoGP Mandalika. Satu lagi Warisan Jokowi yang bikin amburadul

Menjadi tuan rumah MotoGP itu tidak gratis. Bayar. Mana ada rumusnya jadi tuan rumah beginian kehormatan. Panitia harus membeli jatahnya. Dan itu disebut dengan “hosting fee“.

Tahun 2023, Sirkuit Mandalika bayar hosting fee 176 miliar. Tahun 2024, bayar 231 miliar. Tahun 2025 ini naik lagi jadi 290 miliar. Ada duitnya?

ITDC (Injourney Tourism Development Corporation/ PT Pengembangan Pariwisata Indonesia) sebagai BUMN induk sirkuit ini semakin remuk laporan keuangannya. Tahun 2023 saja, rugi mereka 278 miliar. Dengan total utang 5,4 triliun. Tahun 2024, ITDC bahkan belum mengumumkan Laporan Keuangan Tahunan di websitenya. Mbuh, entah kenapa, mungkin masih dihitung-hitung angkanya.

ITDC ini dulu BUMN yang sehat sekali. Untung gede, utang kecil. Tapi sejak dipaksa bikin sirkuit Mandalika, hancur lebur laporan keuangannya. Tahun 2025 ini, petinggi-petinggi mereka sih tetap ngoceh yakin bisa bayar hosting fee. Darimana duitnya? Biasanya ngemis ke Kementerian, ngemis ke Pemda. Sial. Presiden lagi efisiensi. Kementerian disuruh berhemat, Pemda nggak dapat transfer daerah.

Maka dari mana duit hosting fee tahun ini? Silahkan buka-bukaan laporan keuangan ITDC 2023, itu posisi cash entah ada berapa deh sekarang, nggak cukup. Total revenue (pendapatan kotor) ITDC tahun 2023 itu hanya 800 miliar. Bayangkan, itu sudah konsolidasi seluruh anak-anak perusahaan, termasuk bisnis di Bali, dan 290 miliar buat bayar hosting fee? Nggak masuk rumusnya.

Jalan ninja terakhir: talangin dengan utang baru!

Sirkuit Mandalika ini benar-benar buah simalakama. Kontrak MotoGP sudah dibuat 10 tahun, sampai 2031. Pendapatan tiket jelek, sponsor jelek. Jualan merchandise juga jelek. Tidak nutup. Dari mana duitnyaaaa buat hosting fee? Belum biaya-biaya lain?

Nasib duh nasib.

Sementara pejabat masih saja membual, 3 hari pelaksanaan MotoGP, berhasil ditonton sekian miliar orang. Memberikan efek ekonomi sekian triliun. Lebay! Silahkan datang ke Mandalika sana! Tempat ini masih tertinggal dibanding Bali. Bahkan mau naik grab/gojek saja nggak bisa.

Siapa yang akan membayari utang triliunan ITDC? Dan utang ini terus naik tiap tahun. Baiklah, besok2 tinggal minta talangan dari APBN atau Danantara deh.

Terakhir, wahai direksi+komisaris ITDC, segera posting Laporan Keuangan Tahunan 2024 di website kalian! Ini sudah September 2025.

(Tere Liye)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *