Oleh: Ismail Amin, WNI sementara tinggal di Iran
Saya beri tahu ya realitas di Iran dengan perbandingan di Indonesia. Ini untuk keluarga sederhana di Iran dan Indonesia dengan penghasilan yang sama $200 dollar.
IRAN — Gaji $200 = 280 Juta Rial Iran
Pengeluaran energi:
- Bensin 60 liter = 3.000.000
- Gas rumah tangga = 1.000.000 (ini dibayar dua bulan sekali 2.000.000)
- Listrik = 2.000.000 (ini juga dibayar 2 bulan sekali 4.000.000)
Total energi per bulan = 6.000.000 rial
Kebutuhan pangan pokok (rata-rata keluarga kecil)
- Beras 10 kg = ± 15.000.000
- Roti tradisional harian sebulan = ± 4.500.000
- Telur, sayur, ayam, kebutuhan dapur dasar = ± 100.000.000
Perlengkapan kebersihan rumah tangga = ± 10.000.000
Total pangan & rumah tangga ≈ 129.500.000 rial
Utilitas & komunikasi
- Internet rumah + paket data = 4.000.000
- Sewa rumah= 50.000.000
Total pengeluaran rutin utama Iran per bulan:
Energi (6 jt) + Pangan (129,5 jt) + Internet (4 jt)+sewa rumah (50 jt)
👉Total pengeluaran rutin sebulan untuk kebutuhan dasar = 189.500.000 rial
👉Dari gaji 280.000.000 rial = ada sisa uang 90.500.000 rial untuk keperluan lain seperti hiburan dan tabungan.
👉Artinya: dengan $200, warga masih punya ruang sangat besar untuk hidup.
***
Sekarang untuk Indonesia saya minta bantuan AI. Jika hitungannya salah, silahkan teman-teman sesuaikan.
INDONESIA — Gaji $200 = Rp3.200.000
Kebutuhan pangan & rumah tangga
- Beras 10 kg = Rp160.000
- Lauk-pauk, sayur, telur, ayam = Rp1.200.000
- Perlengkapan kebersihan = Rp200.000
- Listrik = Rp300.000
- Air = Rp150.000
- Internet + paket data = Rp350.000
Total = Rp2.360.000
Tempat tinggal & transportasi
- Kontrakan sederhana = Rp800.000 – Rp1.200.000
- Iuran lingkungan & sampah = Rp100.000
- Bensin 60 liter = Rp600.000
Minimal total = Rp1.500.000
👉Total pengeluaran rutin Indonesia per bulan: Rp2.360.000 + Rp1.500.000 = Rp3.860.000
👉Padahal gaji hanya = Rp3.200.000
👉Defisit sejak awal. Belum sekolah anak. Belum kesehatan. Belum cicilan. Belum tabungan. Belum kebutuhan sekunder.
***
Jadi titik paling penting
Di Iran, dengan gaji setara $200:
Yang mahal adalah barang impor dan barang mewah. Yang murah adalah kebutuhan hidup.
Di Indonesia, dengan gaji $200: Yang mahal justru kebutuhan hidup. Barang mewah bisa dicicil.
Inilah perbedaan mendasar yang sering tidak dipahami ketika orang hanya melihat kurs mata uang. Demonstrasi di Iran terjadi karena tekanan ekonomi makro akibat sanksi dan fluktuasi harga pasar.
Bukan karena rakyatnya tidak bisa makan, tidak bisa beli bensin, atau tidak punya tempat tinggal. Sementara di Indonesia, tanpa sanksi, tanpa embargo, tanpa tekanan global, rakyat dengan penghasilan yang sama bisa dikatakan kesulitan memenuhi kebutuhan paling dasar.
Sekali lagi saya ulang, yang demo di Iran adalah para pelaku pasar, karena fluktuasi harga yang tidak menentu, terutama barang-barang sekunder dan tersier. Bukan masyarakat umum.







Komentar