Raffi Ahmad. Kalian kira sebatas artis? Big No!

✍🏻Balqis Humaira

Peringatan keras! Gue kali ini mau bahas sisi Politiknya bukan pribadi Raffi Ahmad, secara sosial dia hampir gak pernah gagal jadi orang baik.

Tapi penasaran gak Lo?
“Kenapa sih Seorang Prabowo sampe kepincut dan ngajak Raffi Ahmad masuk kabinet?”
Jawabannya bukan karena Raffi paling pinter.
Bukan juga karena Raffi paling ngerti negara.
Jawabannya jauh lebih simpel dan manusiawi.
Karena Raffi itu dipercaya orang tanpa harus mikir.
Dan itu barang langka gaes…
Sekarang lo bayangin posisi Prabowo Subianto.
Abis pemilu, negara capek. Rakyat capek. Semua orang capek.
Orang udah gak mau denger pidato. Udah males baca klarifikasi. Udah skeptis sama pejabat.

Di kondisi kayak gini, negara punya masalah besar:
gimana caranya ngomong ke rakyat tanpa bikin rakyat pengen skip?
Jawabannya bukan nambah menteri pinter.
Jawabannya: pake wajah yang bikin orang betah nonton.
Masuklah Raffi Ahmad.
Raffi itu unik.
Dia bukan tokoh kritis.
Bukan tokoh ideologis.
Bukan juga tokoh yang bikin orang tegang.
Raffi itu kayak temen lama yang nongol di TV.
Lo gak selalu setuju sama dia, tapi lo gak curiga juga.
Dan di politik, itu emas.

Di sini ada teori yang sebenernya sederhana banget, cuma sering dibikin ribet.

Namanya co-optation.

Bahasa kasarnya: “daripada lo di luar gak ada kepastian keamanan, mending lo gabung sama kita biar aman dan tenang.”
Ini pernah dibahas sama Antonio Gramsci.
Kekuasaan yang pinter gak perlu mukul orang berpengaruh.

Cukup dirangkul, dikasih posisi, otomatis nadanya turun sendiri, inget kan Deddy Corbuzier yg dulu hobi senggol pun sekarang berhati hati banget bahkan lebih milih aman.
Bukan karena disuruh, atau di paksa
Tapi karena situasinya menguntungkan jika bergabung.

Terus ada teori lain yang lebih gampang dipahami.
Legitimasi pinjaman.
Ini idenya Max Weber.
Kekuasaan itu butuh dipercaya.
Masalahnya, pejabat sering gak dipercaya.
Tapi artis?
Masih.

Jadi negara mikir gini:
“Kalau orang percaya Raffi, dan Raffi ada di sini, ya semoga kepercayaan itu nempel dikit.”
Bukan soal kerja.
Tapi soal rasa aman di kepala rakyat.

Sekarang, kenapa Raffi mau?

Jawabannya juga gak ribet.
Karena masuk ke lingkar kekuasaan itu aman.
Raffi itu hidup dari citra.
Citra itu rawan bahkan rapuh.
Salah dikit bisa viral, bisa dipelintir, bisa dihajar rame-rame.
Masuk ke sistem bikin posisi lebih teduh.
Bukan kebal, tapi lebih terlindungi. Terutamanya bisnis bisnis dia yang punya resiko tinggi dan gue gak mau sebut di sini, Lo bisa riset sendiri bisnis Raffi yg gak kaleng kaleng.
Ini namanya self-preservation.
Bahasa manusianya: nyelametin diri.
Normal.
Manusiawi.
Gak perlu dimaki.

Nah, sekarang kita sampai ke bagian paling penting.
Prabowo bukan butuh Raffi buat mikir kebijakan.
Prabowo butuh Raffi buat ngademin suasana, tameng hidup dari berbagai serangan panas dari luar.

Raffi itu bukan otak.
Raffi itu peredam bius kritik masyarakat.
Kayak musik di kafe.
Bukan buat lo mikir, tapi biar lo gak sadar lagi nunggu makanan.
Dan perannya pas banget:
bukan menteri keras
bukan pengambil keputusan besar
tapi selalu ada di ruang publik
Itu jelas di desain.

Masalahnya muncul di sini.
Begitu Raffi masuk, dia gak bisa netral lagi.
Bukan karena dia jahat.
Tapi karena posisinya bikin dia gak mungkin bebas.
Kalau dia kritik, dia nabrak sistem.
Kalau dia diam, sistem diuntungkan.
Dan sistem tau itu.
Makanya ini bukan soal Raffi baik atau jahat.
Ini soal strategi bikin siapapun yang berpengaruh diem tanpa di paksa .

Jadi kalau lo tanya lagi, versi paling ringan dan jujurnya:
Prabowo butuh Raffi karena:
Raffi dipercaya tanpa debat
Raffi bikin negara keliatan ramah
Raffi nurunin tensi tanpa pidato
Raffi bikin publik ngerasa “ah yaudahlah”
Dan Raffi mau karena:
aman
rasional
menguntungkan secara posisi
Ketemu di tengah.
Deal jalan.
Semua kelihatan normal.
Padahal yang terjadi adalah politik paling rapi:
gak ada konflik, gak ada represi, tapi publik kehilangan satu suara netral.
Kita masuk ke bagian paling horor tapi paling deket sama kehidupan kita sehari-hari.
Gini ya.

Kenapa sih gue bilang fans malah jadi benteng paling kuat kekuasaan
padahal mereka gak digaji
gak dikontrak
bahkan gak sadar lagi ngebela siapa
Jawabannya sederhana:
karena fans merasa yang dibela itu bukan negara, tapi perasaan mereka sendiri.
Dan itu bukan salah fans.
Itu kerja psikologi massa.
Bayangin lo udah bertahun-tahun suka satu figur.

Nonton dia tiap hari.
Ketawa bareng.
Ikut tumbuh.
Ikut ngerasa “gue tau dia orangnya gimana”.
Di otak lo, dia bukan lagi orang asing.
Dia udah kayak temen jauh.
Kayak keluarga satu arah.
Terus suatu hari, figur itu masuk ke lingkar kekuasaan.

Masuk pemerintahan.
Masuk struktur negara.
Di titik itu, otak manusia gak mikir politik dulu.
Yang kerja pertama kali itu emosi.
Otak lo langsung bilang: “Ah gak mungkin dia jahat.” “Dia orang baik.” “Dia gak mungkin dimanfaatin.”
Dan dari situ, pelan-pelan, lo berhenti curiga.
Padahal yang berubah bukan cuma dia.
Yang berubah itu posisinya.

Tapi otak manusia benci perubahan identitas.
Lebih nyaman percaya “dia tetap sama”.
Nah di sinilah kekuasaan dapet jackpot.
Tanpa bayar buzzer.
Tanpa nyewa pasukan.
Tanpa bikin akun palsu.
Karena fans itu buzzer paling efektif: – mereka emosional
mereka personal
mereka merasa diserang kalau idolanya dikritik
Kritik ke kebijakan?
Dibaca sebagai serangan ke idola.
Dan begitu itu kejadian, logika mati.
Ini ada teorinya.
Namanya halo effect.
Kalau lo suka satu hal dari seseorang,
otak lo otomatis ngasih nilai bagus ke hal lain yang bahkan gak lo cek.

Lucu berarti baik
Baik berarti jujur
Jujur berarti gak mungkin jadi alat kekuasaan
Padahal itu lompatannya jauh banget.
Tapi otak manusia suka jalan pintas.
Terus masuk teori kedua, yang lebih serem:
identitas kelompok.
Fans itu bukan cuma suka.
Mereka merasa jadi bagian.
Begitu idola diserang, yang kerasa bukan “pendapat beda”,
tapi “kelompok gue diserang”.
Dan manusia itu makhluk tribal.

Kalau kelompok diserang, refleksnya bukan mikir, tapi melawan.
Makanya argumen rasional sering mental.
Data mental.
Fakta mental.
Karena yang dilawan bukan logika, tapi ancaman identitas.
Sekarang tarik ke kekuasaan.
Begitu figur populer kayak Raffi Ahmad masuk lingkar negara,
secara gak sadar kekuasaan dapet tameng emosional.

Bukan karena Raffi nyuruh.
Bukan karena ada instruksi.
Tapi karena fans ngerasa wajib jaga dia.
Dan ketika dia mewakili negara,
yang kejaga bukan cuma dia,
tapi negara ikut kebawa aman.
Ini yang bikin ini serem.
Karena negara gak perlu ngomong.
Fans yang ribut.
Negara gak perlu klarifikasi.
Fans yang nyerang pengkritik.
Negara gak perlu nutup mulut orang.
Fans yang bikin orang kapok ngomong.
Dan semuanya terjadi sambil bilang: “Ini bukan buzzer.” “Ini murni pembelaan.”
Iya.

Justru itu masalahnya.
Karena buzzer bayaran bisa berhenti.
Fans gak.
Dan yang bikin makin licin, wajah yang kita suka itu ngaktifin empati, bukan skeptisisme.
Begitu kita lihat wajah yang familiar, otak masuk mode santai.
Mode aman.
Mode “ah yaudahlah”.
Padahal justru di titik itu, pertanyaan harusnya paling keras.
Tapi gak kejadian.
Karena emosi duluan kerja, logika belakangan.
Makanya ini bukan soal fans goblok atau enggak.
Bukan.
Ini soal otak manusia emang dirancang kayak gitu.
Kekuasaan yang pinter gak ngelawan otak manusia.
Dia menungganginya.
Dan kalau lo mau nuduh dengan jujur, ya boleh aja lo bilang gini:
“Mungkin aja pemerintah dapet buzzer gratisan,
bukan karena konspirasi,
tapi karena psikologi massa kerja sempurna.”
Bukan direkrut.
Bukan disuruh.
Tapi tercipta sendiri.
Dan itu jauh lebih kuat daripada pasukan bayaran.
Karena yang digerakkan bukan uang,
tapi rasa sayang.
Dan begitu politik numpang di rasa sayang,
kritik berubah jadi pengkhianatan,
pertanyaan berubah jadi kebencian,
dan kekuasaan duduk paling nyaman.
Tanpa kelihatan jahat.

(sumber: fb)

Komentar