Prof. Dr. Thomas Djamaluddin adalah seorang pakar astronomi dan astrofisika terkemuka di Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Peneliti Ahli Utama (Profesor Riset) di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
****
Thomas Djamaluddin: Ada yg masih keukeuh menjadikan gerhana bulan sebagai bukti benarnya kalender tertentu. Faktanya? Gak lah …. Purnama bisa malam ke-14 atau ke-15. Untuk kasus tertentu bisa malam ke-13 atau ke-16.
Ulasan astronomi untuk pencerahan dan inspirasi.
Kali ini kita akan membahas “Purnama atau Gerhana penguji kebenaran awal bulan?”
Fakta astronomi:
- Siklus revolusi bulan mengitari bumi rata-rata 29,53 hari.
- Maka waktu sejak bulan baru ke Purnama rata-rata 14,76 hari.
Sehingga orang selalu berasumsi Purnama terjadi pada malam ke-15 bulan hijriah. Nyatanya, Purnama bisa terjadi pada malam ke-14 atau ke-15.
Gerhana bulan terjadi saat Purnama.
Seringkali ketika terjadi perbedaan Awal Ramadhan, Idul Fitri, atau Idul Adha, ada netizen yang mengklaim Purnama atau Gerhana bulan sebagai bukti kebenaran pihaknya.
Tanggal bulan hijriah hanya bisa ditentukan awal bulannya. Itu bergantung pada kriteria hisab atau hasil ru’iyat hilal.
- Dengan kriteria yang paling rendah, awal bulannya jadi lebih awal dan Purnama jatuh pada malam ke-15.
- Dengan kriteria yang lebih tinggi atau hasil ru’iyat hilal, awal bulan jadi lebih belakangan dan Purnama jatuh pada malam ke-14.
Kesimpulan: Purnama atau Gerhana bulan tidak bisa jadi alat uji kebenaran awal bulan.
SIMAK SELENGKAPNYA VIDEO:






