Siapa di sini yang berisik ribut soal kurs dollar yang sudah 17.000?
Tuh kata menteri, itu karena kalian nggak punya duit.
Kalau punya, kalian sih baik-baik saja, dan malah memuji betapa hebatnya rupiah yang melemah sedikit saja dibanding mata uang negara lain.
Saya senang lihat pejabat-pejabat ini, yang banyak bergurau, atau malah nyinyirin ekonom-ekonom, pengamat-pengamat, mereka terlihat santai saat situasi lagi serius begini.
Saya jadi ingat 1998, wah wah, sebelum krismon meledak dulu, Soedradjad Djiwandono, Gubernur BI (kalian pasti tahu dong, anaknya dia jadi pejabat BI juga), membuat pernyataan kocak-kocak deh.
Mei 1997 (Kompas, 19 Mei): “Krisis mata uang baht Thailand tidak memengaruhi nilai tukar rupiah.” Saat itu rupiah masih stabil di Rp2.440–2.442 per USD.
Juli 1997 (Kompas, 22 Juli): Saat rupiah mulai goyah ke Rp2.500 (bahkan sempat Rp2.700 di money changer), dia bilang: “Jangan panik. Fundamental dan pengelolaan sudah teruji, tantangan besar bisa diatasi melalui kerjasama antar bank.”
Ehh, rupiah jadi 16.000.
Soeharto tumbang.
Prabowo kabur ke Yordania.
Tapi begitulah, Indonesia oh Indonesia. Semua hanya jalan di tempat. Muter-muter. Penduduknya paling bahagia sedunia.
Kalian catat baik-baik, jika harga minyak dunia tembus 150 dollar/barrel, kurs jebol 20.000, Indonesia itu bisa krisis.
Fundamental ekonomi kita tuh tidak sehebat ocehan pejabat.
Saya sih benar-benar tidak berharap begitu; perang Iran segera selesai baik-baik. Dunia kembali baik-baik.
Tapi bahkan tanpa perlu faktor eksternal, dengan kelakuan pejabat yang sibuk MBG tapi nggak ada gizinya, beli mobil india, bangun gedung koperasi yang entah apa nanti hasilnya, ini tuh persoalan serius, my friend.
(Tere Liye)






