Presiden Mendengar Rakyat, atau Mendengar Teddy?

Harapan besar publik terhadap kepemimpinan Prabowo Subianto salah satunya adalah terbukanya akses antara presiden dan rakyat. Banyak orang berharap Prabowo menjadi pemimpin yang menyerap langsung denyut persoalan masyarakat—tanpa sekat, tanpa perantara yang menyaring realitas. Namun harapan itu mulai dipertanyakan ketika muncul persepsi kuat bahwa akses utama, bahkan satu-satunya, ke telinga Presiden berada di tangan Teddy Indra Wijaya.

Di sinilah persoalan sesungguhnya bermula. Masalahnya bukan semata usia Teddy yang relatif muda, bukan pula pangkat militernya yang masih Letnan Kolonel, melainkan beban kekuasaan yang terlalu besar pada satu figur yang belum teruji secara politik. Ketika seluruh informasi aktual dan faktual tentang kondisi Indonesia—dari keresahan rakyat, konflik sosial, tekanan ekonomi, hingga kritik kebijakan—harus melewati satu pintu, maka negara berada dalam posisi rawan.

Dalam politik kekuasaan, siapa yang menguasai akses informasi, ia menguasai arah keputusan. Presiden bisa saja tetap berniat baik, tetapi niat itu akan dibentuk oleh informasi yang sampai ke meja kerjanya. Jika realitas telah disaring, dipilih, atau dipoles demi menjaga kenyamanan kekuasaan, maka presiden berisiko hidup dalam gelembung yang jauh dari kenyataan rakyatnya sendiri.

Kekhawatiran publik semakin beralasan karena kemampuan politik Teddy Indra Wijaya masih menjadi tanda tanya. Pengalaman panjang membaca dinamika elite, mengelola konflik kepentingan, serta memahami kompleksitas sosial Indonesia belum teruji di ruang publik. Namun justru di pundaknya diletakkan peran strategis sebagai “telinga kekuasaan”.

Ini bukan soal merendahkan individu. Ini soal arsitektur kekuasaan. Negara sebesar Indonesia, dengan lebih dari 270 juta penduduk dan ribuan persoalan struktural, tidak seharusnya disaring realitasnya oleh satu orang siapa pun dia.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah Presiden Prabowo sedang mendengar rakyat Indonesia secara utuh, atau hanya mendengar versi realitas yang disampaikan Teddy? Dalam demokrasi, kecurigaan publik bukan ancaman, melainkan alarm. Dan alarm itu kini berbunyi cukup keras untuk tidak diabaikan.

Komentar