Presiden Iran: Aksi protes damai adalah hak rakyat, tetapi membakar masjid dan Al-Quran adalah bagian dari rencana AS-Israel

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa aksi protes damai adalah hak warga negara yang sah, namun tindakan kekerasan para “perusuh”—khususnya pembakaran masjid dan Al-Quran—sebagai bagian dari “rencana” atau “konspirasi” yang didalangi oleh Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataannya disampaikan selama wawancara televisi pada 11 Januari 2026, setelah beberapa minggu kerusuhan nasional yang dipicu oleh keluhan ekonomi dan mata uang yang runtuh.

Poin-Poin Penting Pernyataan Pezeshkian:

  • Perbedaan Protes: Pezeshkian membuat perbedaan tajam antara demonstran sah terkait masalah ekonomi dan para “perusuh” yang menurutnya dilatih di luar negeri.
  • Tuduhan Campur Tangan Asing: Ia menuduh bahwa “teroris” dikerahkan ke Iran dari luar negeri untuk melakukan serangan pembakaran di pasar, masjid, dan properti publik. Ia secara khusus menyebut mereka yang membakar masjid sebagai “bukan manusia”.
  • Ketegangan Internasional: Pernyataan ini bertepatan dengan peringatan dari Presiden AS Donald Trump mengenai potensi serangan militer jika otoritas Iran terus melakukan penindakan keras terhadap para demonstran.
  • Tanggapan Nasional: Menanggapi dugaan kekerasan yang didukung asing, pemerintah Iran menyerukan “pawai perlawanan nasional” di seluruh negeri pada 12 Januari 2026.
  • Tugas Pemerintah: Ia menyatakan bahwa tugas pemerintah adalah mendengarkan kekhawatiran yang sah, tetapi “tugas tertinggi” mereka adalah mencegah para perusuh mengganggu masyarakat.
  • Penodaan Agama: Pezeshkian dan media pemerintah menekankan bahwa tindakan penodaan, seperti membakar Al-Quran, tidak dapat diterima dan dimaksudkan untuk memicu kebencian dan perpecahan.

Korban Jiwa

Kelompok hak asasi manusia seperti HRANA melaporkan bahwa lebih dari 540 orang telah tewas hingga 12 Januari 2026, termasuk ratusan demonstran dan puluhan personel keamanan.

Komentar