PRABOWO INGIN INDONESIA TIRU JEPANG-KOREA. Netizen: Ayo Pak mulai dari budaya Pejabat Mengundurkan Diri

PRABOWO INGIN INDONESIA TIRU JEPANG-KOREA

Ayo Pak mulai dari budaya Pejabat Mengundurkan Diri.

Budaya mundur pejabat Jepang berakar pada nilai tanggung jawab moral (sekinin), kehormatan (meiyo), dan rasa malu (haji) yang kuat, membuat mereka mengundurkan diri saat gagal atau melakukan kesalahan, bahkan sepele, sebagai bentuk pertanggungjawaban dan menjaga kepercayaan publik, berbeda dengan di Indonesia yang sering kali minim rasa malu atau budaya serupa.

Konsep ini dipengaruhi sejarah samurai (bushidō) dan kewajiban sosial (giri/on), di mana jabatan adalah amanah yang harus dijaga martabatnya, bukan sekadar posisi.

Konsep Utama Budaya Mundur Jepang:

  • Sekinin (Tanggung Jawab): Pejabat menganggap kegagalan sebagai tanggung jawab moral pribadi, bukan hanya hukum, dan mengundurkan diri untuk menebusnya.
  • Meiyo (Kehormatan): Menjaga harga diri dan martabat pribadi serta institusi menjadi sangat penting; mundur adalah cara mempertahankan kehormatan.
  • Haji (Rasa Malu): Rasa malu akibat skandal atau kegagalan sangat besar, memicu tekanan publik untuk mengundurkan diri sebagai cara meredakan malu tersebut.
  • Giri & On (Kewajiban & Utang Budi): Pejabat merasa memiliki kewajiban moral (giri) kepada publik dan partai, serta harus membalas kepercayaan yang diberikan (on).

Contoh Kasus:

  • Taku Eto (Menteri Pertanian, 2025): Mengundurkan diri setelah komentarnya tentang menerima beras gratis dari pendukung memicu kemarahan publik dan desakan dari partai.
  • Menteri Kabinet (2023): Empat menteri mundur akibat skandal dugaan penggelapan dana kampanye oleh Partai Demokrat Liberal (LDP).
  • Makiko Yamada (Juru Bicara PM, 2021): Mengundurkan diri setelah terungkap menerima jamuan makan malam mewah dari perusahaan yang memiliki hubungan dengan putra PM saat itu.
  • Hiroshi Sasaki (Wali Kota Toda, 2025): Mengundurkan diri karena dugaan penggunaan ijazah palsu, menunjukkan pentingnya integritas akademik bagi pejabat di Jepang.

Perbedaan dengan Indonesia:
Di Indonesia, budaya ini belum tumbuh kuat, sehingga pejabat sering enggan mundur meski tersandung skandal, karena minimnya rasa malu dan tekanan moral, sering kali mengorbankan bawahan, kontras dengan Jepang yang menjunjung tinggi tanggung jawab moral dan sosial.

Komentar