Kalau lo perhatiin belakangan ini, ada satu perasaan aneh yang makin sering muncul tiap lihat Presiden di TV. Bukan soal pidatonya, bukan soal gaya bicaranya, tapi soal auranya. Kayak… jauh. Kayak orang yang hidup di ruangan ber-AC tapi gak pernah ngerasain panas matahari. Padahal di luar, rakyat lagi kebakar macam-macam masalah.
Dan kalau ditarik benang merahnya, ada satu nama yang selalu muncul di sekitar beliau. Lengket. Ke mana-mana nempel. Ngatur siapa boleh dekat, siapa enggak. Ngatur jadwal, ngatur tamu, ngatur alur. Namanya Teddy.
Ini bukan soal benci atau suka sama orangnya. Ini soal peran. Soal fungsi. Soal posisi. Karena di dunia kekuasaan, yang bahaya itu bukan orang jahat. Yang bahaya itu orang yang pegang pintu.
Ini bukan karangan. Ini bukan lebay. Ini soal mekanisme. Soal sistem satu pintu. Hari ini, mau menteri, mau pejabat, mau tokoh politik, mau siapa pun, akses ke Presiden itu ribetnya minta ampun. Bukan cuma rakyat biasa, menteri pun bisa mental. Dan di dunia kekuasaan, kalau akses ke pemimpin makin sempit, ada dua kemungkinan: pemimpinnya memang mau menutup diri, atau ada orang yang menutupkan dunia buat dia.
Teddy bukan cuma “ajudan”. Kalau cuma ajudan, tugasnya ngikut, nyiapin, ngelindungin. Tapi yang ini lebih dari itu. Dia pegang jadwal. Dia pegang agenda. Dia pegang dokumen. Dia pegang siapa ngomong apa. Dia pegang urutan isu. Dia pegang pintu fisik dan pintu informasi. Kalau dia bilang “belum sekarang”, ya belum. Kalau dia bilang “nggak perlu ketemu”, ya nggak perlu. Selesai.
Ini yang orang-orang sering gak sadar: yang paling berkuasa di sekitar raja itu bukan yang duduk di singgasana, tapi yang megang pintu singgasana.
Dan efeknya pelan-pelan mulai kelihatan. Presiden jadi jarang ketemu orang secara spontan. Sidak jadi jarang. Laporan-laporan yang sampai ke dia itu sudah rapi, sudah halus, sudah disisir. Kayak nasi kotak buat pejabat: kelihatannya bersih, tapi lo gak tau dapurnya gimana.
Kalau ini dibiarkan, apa yang terjadi?
Yang terjadi bukan cuma Presiden jadi susah ditemui. Yang terjadi: semua orang di bawahnya mulai main aman. Menteri gak lagi mikir “ini penting buat rakyat”, tapi mikir “ini aman gak buat gue”. Laporan bukan lagi soal realitas, tapi soal apa yang enak didengar. Yang jelek ditahan, yang pahit dipermanis, yang bau dibungkus.
Lama-lama, Presiden hidup di dunia versi editan.
Nah, sekarang pertanyaannya: kenapa Prabowo mau pakai sistem kayak gini? Bukannya ini sama aja kayak nyekap diri sendiri?
Jawabannya pahit, tapi sederhana: karena Prabowo lebih takut dikhianati elite daripada salah baca rakyat.
Lo harus ingat satu hal: Prabowo itu bukan orang kemarin sore. Dia produk dunia yang keras. Dunia yang penuh intrik. Dunia yang di tahun 98 ninggalin dia sendirian. Dunia yang nunjukin kalau kekuasaan itu bukan soal benar atau salah, tapi soal siapa tikam siapa duluan.
Di kepala orang kayak gini, musuh utama itu bukan rakyat. Musuh utama itu orang di dalam. Faksi. Lingkaran. Oligarki. Partai. Orang yang pura-pura setia tapi nyiapin pisau.
Makanya dia bangun sistem yang super ketat. Satu pintu. Satu jalur. Satu lingkar. Semua lewat orang yang dia percaya mati.
Dalam logika dia:
“Lebih baik gue dengar sedikit, tapi aman. Daripada dengar banyak, tapi disusupi.”
Masalahnya, dia lupa satu hal: kalau lo cuma dengar satu versi, lo bukan lagi aman. Lo cuma lagi dibutakan.
Karena begitu lo nyerahin semua pintu ke satu lingkar kecil, lo bukan cuma ngamanin diri dari musuh. Lo juga ngunci diri dari kenyataan.
Dan sejarah itu kejam tapi konsisten. Polanya selalu sama.
Dan sejarah penuh dengan pemimpin yang jatuh bukan karena rakyat, tapi karena orang-orang terdekatnya sendiri.
Apakah Prabowo orang jahat? Belum tentu.
Apakah dia niat ngerusak negara? Juga belum tentu.
Tapi satu hal jelas: sistem yang dia pilih hari ini adalah sistem yang menyekap dia dari kenyataan.
Dan kalau lo tanya, “Siapa yang diuntungkan dari Presiden yang hidup di dalam bubble?”
Jawabannya bukan Teddy. Bukan ajudan. Mereka cuma operator.
Yang diuntungkan itu selalu:
– Mereka yang punya akses khusus
– Mereka yang ngerti “kode masuk”
– Mereka yang bisa bisik-bisik tanpa gangguan
– Mereka yang bisa ngatur narasi sebelum narasi sampai ke kepala Presiden.
Rakyat? Kita cuma bisa nonton di TV.
Masalahnya, negara ini terlalu besar dan terlalu ribet buat dipimpin dari balik kaca tebal.
Lo boleh bangun tembok setinggi apa pun. Lo boleh pasang pintu seketat apa pun. Tapi realitas selalu punya cara buat masuk. Kalau bukan lewat laporan, dia masuk lewat krisis.
Dan krisis itu gak bisa disetop sama ajudan mana pun.
Jadi judul “Prabowo di Sekap” itu bukan berarti dia ditahan secara fisik. Ini lebih kejam dari itu: dia dikurung di dalam sistem yang dia bangun sendiri.
Dikurung oleh ketakutannya.
Dikurung oleh obsesinya pada kontrol.
Dikurung oleh keyakinan bahwa dunia lebih berbahaya daripada yang sebenarnya.
Padahal yang paling berbahaya buat seorang pemimpin itu bukan musuh di luar.
Yang paling berbahaya itu: berhenti dengar kenyataan.
Dan sejarah selalu menagih harga yang mahal untuk itu.
(Balqis Humaira)







Komentar