Sebuah poling terbaru menunjukkan bahwa mayoritas pemilih Amerika Serikat percaya Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan terhadap Iran setidaknya sebagian untuk mengalihkan perhatian publik dari skandal yang melibatkan mendiang Jeffrey Epstein.
Survei yang dilakukan oleh Drop Site News, Zeteo, dan lembaga riset Data for Progress menemukan bahwa 52 persen responden setuju serangan tersebut dimaksudkan, setidaknya sebagian, sebagai pengalihan dari kontroversi Epstein yang terus membayangi politik di Washington.
Sebaliknya, 40 persen responden tidak setuju, sementara 8 persen lainnya mengaku tidak yakin.
Di media sosial, dugaan ini juga ramai diperbincangkan. Bahkan nama operasi militer yang disebut Trump sebagai “Operation Epic Fury” oleh sebagian komentator diubah secara satir menjadi “Operation Epstein Fury.”
Perbedaan Tajam antar Kelompok Politik
Pandangan bahwa perang digunakan sebagai pengalihan isu terlihat sangat kuat di kalangan pemilih Partai Demokrat. Dalam poling tersebut, 81 persen pemilih Demokrat menyatakan setuju dengan pandangan tersebut, sementara hanya 14 persen yang menolak.
Di kalangan pemilih muda di bawah usia 45 tahun, mayoritas 66 persen berbanding 26 persen juga percaya serangan terhadap Iran terkait dengan upaya mengalihkan perhatian dari skandal Epstein.
Menariknya, bahkan di antara pemilih Partai Republik, sekitar seperempat responden juga menganggap perang tersebut berkaitan dengan upaya mengalihkan isu domestik.
Poling ini melibatkan 1.272 pemilih potensial di seluruh Amerika Serikat dan dilakukan secara daring pada 6–8 Maret.
Publik AS Terbelah soal Pengaruh Israel
Survei yang sama juga menyoroti persepsi publik tentang apakah keputusan Trump terkait serangan ke Iran lebih dipengaruhi oleh kepentingan rakyat Amerika atau oleh Israel.
Hasilnya menunjukkan opini publik hampir terbelah seimbang.
Sebanyak 47 persen responden menilai Trump lebih merespons kepentingan warga Amerika, sementara 46 persen lainnya percaya ia lebih mempertimbangkan kepentingan Israel.
Di kalangan pemilih independen, 50 persen menilai Trump lebih memprioritaskan kepentingan Israel dibanding kepentingan Amerika sendiri.
Namun di kalangan pemilih Partai Republik, pandangan tersebut jauh lebih kecil, hanya sekitar 17 persen. Sebaliknya, 75 persen pemilih Demokrat percaya Israel memiliki pengaruh besar dalam keputusan tersebut.
Mayoritas Warga AS Tidak Mendukung Perang
Poling juga menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika tidak mendukung serangan terhadap Iran.
Sekitar 55 persen responden menyatakan tidak setuju, termasuk 39 persen yang sangat menentang. Sementara itu, 42 persen responden menyatakan mendukung.
Banyak warga juga khawatir konflik ini akan berdampak negatif pada kehidupan mereka.
Sebanyak 49 persen responden mengatakan perang tersebut kemungkinan akan membuat hidup mereka lebih sulit, sedangkan hanya 10 persen yang percaya situasinya akan membaik. Sisanya menilai konflik tersebut tidak akan berdampak langsung pada kehidupan mereka.
Bisa Berdampak pada Pemilu Mendatang
Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa isu perang dengan Iran berpotensi memengaruhi peta politik Amerika pada pemilu mendatang.
Di kalangan pemilih Demokrat, kandidat yang mendukung perang atau tambahan anggaran militer untuk konflik tersebut berisiko kehilangan dukungan besar dalam pemilihan pendahuluan. Banyak responden mengatakan mereka jauh lebih kecil kemungkinan untuk memilih kandidat semacam itu pada pemilu Kongres 2026 maupun pemilu presiden 2028.
Sebaliknya, pemilih Partai Republik justru menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Sebagian besar dari mereka menyatakan lebih mungkin mendukung kandidat yang bersikap tegas dan pro-perang.
Kekhawatiran terhadap Kemampuan Militer Iran
Meski banyak yang menolak perang, sebagian besar responden tetap menganggap penting mencegah Iran memiliki rudal balistik yang mampu menjangkau wilayah Israel.
Dalam poling tersebut, 83 persen responden mengatakan hal itu penting, sementara hanya 13 persen yang berpendapat Iran seharusnya diperbolehkan memiliki kemampuan tersebut sebagai bagian dari hak setiap negara untuk mempertahankan diri.
Banyak Warga AS Tidak Tahu Serangan ke Sekolah di Iran
Survei juga menanyakan sejauh mana warga Amerika mengetahui serangan terhadap sebuah sekolah perempuan di Iran selatan yang menewaskan lebih dari 175 orang, sebagian besar adalah siswa.
Hasilnya menunjukkan tingkat kesadaran publik masih rendah.
Sekitar 32 persen responden mengaku sama sekali tidak mengetahui kejadian tersebut, sementara hanya 16 persen yang mengatakan mereka cukup mengikuti perkembangan peristiwa itu.
Di antara responden yang mengetahui insiden tersebut, sekitar 70 persen percaya serangan itu dilakukan oleh Israel, Amerika Serikat, atau keduanya secara bersama-sama.






