Pesan Pertama Pemimpin Baru Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei: Bersumpah Membalas Darah Para Syuhada

Pemimpin baru Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, menyampaikan pesan pertamanya kepada rakyat Iran dengan menekankan pentingnya persatuan nasional, kelanjutan pertahanan yang kuat, serta menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup.

“Kehendak rakyat adalah melanjutkan pertahanan yang efektif, dan kehadiran mereka di lapangan harus terus dipertahankan. Selat Hormuz harus tetap ditutup,” kata Khamenei pada Kamis.

Ia membuka pidatonya dengan doa untuk kemunculan kembali Imam Mahdi yang dinantikan, lalu menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya pemimpin besar revolusi, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.

Khamenei juga menyampaikan duka cita kepada rakyat Iran serta umat Muslim di seluruh dunia, khususnya mereka yang terdampak perang terbaru antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, termasuk keluarga para syuhada serta para penyintas gerakan Islam.

Dalam pesannya kepada rakyat Iran, Mojtaba Khamenei mengatakan bahwa dirinya mengetahui hasil pemungutan suara Majelis Ahli mengenai pengangkatannya melalui media Republik Islam, sama seperti masyarakat lainnya.

Ia mengakui bahwa memimpin setelah tokoh besar seperti Ruhollah Khomeini dan pendahulunya Ayatollah Ali Khamenei merupakan tanggung jawab yang sangat berat.

“Duduk di posisi yang pernah ditempati dua pemimpin besar—Imam Khomeini dan syahid Khamenei—adalah tugas yang sangat berat,” ujarnya.

Menurutnya, tokoh yang sebelumnya memegang posisi tersebut telah menghabiskan lebih dari 60 tahun hidupnya untuk perjuangan di jalan Tuhan, meninggalkan berbagai kenikmatan dan kenyamanan dunia, hingga menjadi figur luar biasa dalam sejarah kepemimpinan Iran.

“Baik kehidupan maupun cara wafatnya dipenuhi dengan kehormatan dan kemuliaan yang bersumber dari keyakinannya pada kebenaran,” tambahnya.

Peran Rakyat dalam Pertahanan Negara

Dalam pesannya, Mojtaba Khamenei juga menyoroti peran penting rakyat Iran dalam mempertahankan negara.

Ia mengatakan bahwa salah satu ciri utama pemimpin revolusi sebelumnya adalah kepercayaan besar mereka kepada rakyat.

“Salah satu kualitas besar dari pemimpin revolusi yang syahid dan pendahulunya adalah melibatkan rakyat dalam semua aspek kehidupan, terus mendidik mereka, serta mengandalkan kekuatan rakyat dalam praktik nyata,” ujarnya.

Ia juga menyinggung masa ketika Iran sempat tidak memiliki pemimpin dan panglima tertinggi dalam beberapa hari terakhir.

Menurutnya, kecerdasan, kesadaran, dan ketangguhan rakyat Iran pada masa itu membuat sekutu terkesan dan musuh terkejut.

“Kalianlah rakyat yang memimpin negara dan menjaga kekuatannya,” kata Khamenei.

Ia menegaskan bahwa kekuatan rakyat merupakan kunci keberhasilan negara. Tanpa kehadiran dan dukungan rakyat, kepemimpinan maupun lembaga negara tidak akan dapat berfungsi dengan baik.

Khamenei juga menekankan pentingnya persatuan serta kepercayaan kepada Tuhan sebagai kunci kemenangan.

Ia mengajak masyarakat untuk tetap aktif dalam urusan nasional, termasuk berpartisipasi dalam pawai Hari Quds yang biasanya diselenggarakan pada Jumat terakhir bulan Ramadan.

Seruan Ketahanan Nasional

Pemimpin baru Iran itu juga mengajak rakyat untuk saling membantu di tengah situasi sulit.

“Jangan ragu untuk saling menolong,” ujarnya, sambil memuji semangat kedermawanan masyarakat Iran.

Ia juga meminta organisasi pelayanan publik untuk memberikan dukungan penuh kepada masyarakat yang paling terdampak perang dan aksi teror yang dilakukan Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap rakyat Iran.

“Semua organisasi pelayanan harus memberikan dukungan penuh kepada mereka yang membutuhkan serta kepada jaringan relawan bantuan rakyat,” katanya.

Menurutnya, jika prinsip-prinsip tersebut dijaga, maka kemenangan atas musuh akan semakin dekat.

“Contoh paling dekat adalah kemenangan atas musuh dalam perang yang sedang berlangsung saat ini, insyaAllah,” ujarnya.

Penghormatan kepada Militer dan Poros Perlawanan

Mojtaba Khamenei juga memuji angkatan bersenjata Iran atas upaya mereka menghadapi kekuatan imperialis global.

“Para prajurit pemberani kita telah menghentikan langkah musuh dengan pukulan yang menghancurkan, sekaligus mematahkan ilusi musuh yang ingin menguasai tanah air kita atau bahkan memecah-belahnya,” katanya.

Ia kembali menegaskan bahwa rakyat menginginkan pertahanan yang kuat dan membuat musuh menyesal.

Ia juga menegaskan bahwa penutupan Strait of Hormuz tetap menjadi prioritas.

Khamenei turut mengapresiasi peran “poros perlawanan”, khususnya Hezbollah serta kelompok perlawanan di Yaman dan Irak.

“Kami menganggap negara-negara dalam poros perlawanan sebagai sahabat terbaik kami,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa perjuangan perlawanan merupakan bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai Revolusi Islam.

Janji Membalas Darah Para Syuhada

Dalam bagian lain pidatonya, Khamenei menyampaikan simpati kepada mereka yang kehilangan anggota keluarga atau mengalami luka akibat perang yang sedang berlangsung.

Ia juga mengungkapkan bahwa keluarganya sendiri turut menjadi korban, termasuk istrinya, saudara perempuan, keponakan, dan saudara iparnya.

“Yang membuat penderitaan ini bisa ditanggung adalah keyakinan bahwa Tuhan menjanjikan pahala bagi mereka yang bersabar,” ujarnya.

Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah berhenti menuntut keadilan atas darah para syuhada.

“Balasan yang kami cari tidak hanya untuk syahidnya pemimpin besar revolusi, tetapi untuk setiap anggota bangsa yang dibunuh oleh musuh,” tegasnya.

Ia juga memastikan bahwa para korban luka akan mendapatkan perawatan medis dan bantuan yang diperlukan.

Pesan untuk Negara-Negara Tetangga

Khamenei juga menyampaikan pesan kepada para pemimpin negara tetangga Iran.

Ia mengingatkan bahwa Iran berbatasan dengan 15 negara melalui darat dan laut, dan selama ini selalu berusaha menjalin hubungan yang baik dan konstruktif.

Namun ia menegaskan bahwa musuh telah mendirikan pangkalan militer dan keuangan di beberapa negara tersebut.

Iran, katanya, akan tetap menargetkan pangkalan asing yang digunakan untuk menyerang Iran, tetapi tetap berkomitmen menjaga hubungan baik dengan negara tetangga selama mereka tidak menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer asing tersebut.

Penghormatan untuk Pemimpin Sebelumnya

Di akhir pesannya, Mojtaba Khamenei memberikan penghormatan kepada pendahulunya.

“Wahai Pemimpin, kepergianmu meninggalkan duka yang mendalam di hati semua orang,” katanya.

Ia mengatakan bahwa pemimpin sebelumnya wafat pada pagi hari tanggal 10 Ramadan saat sedang membaca Al-Qur’an.

Khamenei menegaskan bahwa dirinya akan melanjutkan misi pendahulunya untuk mengibarkan panji kebenaran dan mencapai tujuan besar Revolusi Islam.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para ulama, tokoh politik, serta masyarakat yang memberikan dukungan kepadanya.

Terakhir, ia berdoa agar Tuhan memberikan berkah kepada seluruh rakyat Iran, umat Muslim, serta semua orang tertindas di seluruh dunia di tengah masa-masa sulit ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *