Pesan dari sang adik juru bicara… Momen paling menakjubkan di Gaza

Pada suatu malam yang sangat gelap, di awal bulan Desember 2024, aku sedang menuju salah satu jalan di Kota Gaza.

Pemboman terjadi dari segala arah, dan pesawat-pesawat tempur terbang begitu rendah seolah berjalan di atas tanah.

Tidak ada seorang pun di jalanan, kecuali beberapa orang yang berjalan dengan penuh ketakutan dan kehati-hatian di pinggir jalan, sementara dentuman bom di sekitar kami tak pernah berhenti.

Aku melangkah dengan hati-hati, bersiap jika sewaktu-waktu terjadi serangan dekat yang mungkin menjadikanku syahid.

Tiba-tiba aku melihat seorang lelaki yang tampan, tenang, penuh keyakinan, duduk di sebuah bangku di pinggir jalan!

Aku sama sekali tidak menyangka akan melihatnya di tempat itu, dalam kondisi yang dipenuhi ketakutan dan pemboman, terlebih di waktu ketika musuh mencarinya di setiap jengkal tanah, sambil mengklaim bahwa ia bersembunyi di bawah tanah…

Ia bergegas menghampiriku, dan aku pun menghampirinya. Kami berpelukan dan menangis karena rindu. Kami duduk berbincang, saling menenangkan satu sama lain.

Meski dia adalah saudaraku—dan aku mengenalnya dengan sangat baik—namun dalam situasi itu aku benar-benar takjub dengan wibawanya, keteguhan hatinya, ketenangan, keseimbangan jiwa, dan keberaniannya.

Kami duduk selama satu jam penuh, di bawah dengungan pesawat dan suara peluru serta roket. Aku terus berkata dalam hati bahwa roket ini atau peluru itu mungkin sedang menuju ke arah kami, sementara dia tetap melanjutkan pembicaraan tanpa rasa gentar.

Setelah satu jam, ia berkata kepadaku,

“Aku punya janji dan sedang terburu-buru. Ayo kita berjalan bersama ke daerah itu…”

Kami pun berjalan kaki sekitar 2 kilometer, melewati salah satu kawasan paling berbahaya saat itu.

Pada hari yang penuh berkah itu, para mujahid Suriah sedang bergerak untuk membebaskan Damaskus. Saudaraku (Abu Ubaidah) menceritakan kepadaku—dengan kegembiraan yang hampir membuatnya terbang—tentang kondisi Syam, jatuhnya rezim (Assad), serta pembebasan Aleppo dan banyak wilayah lainnya.

Ia berkata,
“Ini, demi Allah, adalah awal dari hujan yang pertama…”

Kami pun memohon kepada Allah agar apa yang ia harapkan benar-benar terwujud, agar Allah memuliakan Syam dan para tentaranya, Islam dan kaum Muslimin, serta menuliskan bagi mereka kehormatan untuk turut serta dalam pembebasan Palestina dan Masjid Al-Aqsa. Aamiin.

Akhirnya, perjalanan pun usai.

Ia berkata kepadaku,
“Ada yang kamu butuhkan, saudaraku?”

Aku menjawab,
“Keselamatanmu.”

Kami kembali berpelukan, lalu berpisah.

Orang itu adalah saudaraku, Hudzaifah (Abu Ubaidah).

Semoga Allah menerima (amalmu), dan mengumpulkanku kembali bersamamu di surga penuh kenikmatan.

✍🏻 Abdullah Abu Bilal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *